Jakarta (ANTARA) - Berkat Tuhan tidak pernah habis untuk Raja Ampat, gugusan kepulauan indah di barat Semenanjung Kepala Burung di Pulau Papua, sebuah surga yang penuh dengan kekayaan alam seakan tidak lekang dilewati roda waktu.
Surga itu kini menarik perhatian dunia, menjadi salah satu lokasi wisata yang masuk di dalam daftar kunjungan para penyelam dan penikmat alam. Laut biru jernih dan hutan yang hijau menjadi pemandangan yang dinikmati pengunjung dari berbagai penjuru bumi yang tiba untuk melihat wilayah kerap dikenal sebagai "sepenggal surga" dan "surga terakhir di dunia" itu.
Nikolas Obinaru, warga asli Raja Ampat yang tinggal di Kampung Pam meyakini betul hal itu. Tuhan telah memberkati kampungnya dengan ikan yang berlimpah dan alam yang indah untuk memberikan hidup kampung yang terletak di Kepulauan Pam tersebut.
"Tuhan itu terlalu baik, terlalu baik untuk Kepulauan Pam, saya tidak tahu ya, itu rencana Tuhan. Ikannya sampai hari ini tidak pernah habis," kata Nikolas, yang juga menjabat sebagai Kepala Kampung Pam.
Selama ratusan tahun, masyarakat di wilayahnya hidup bergantung dari alam. Berjalan ke pantai ketika ingin menikmati ikan, naik ke bukit ketika ingin memanfaatkan hasil hutan.
Raja Ampat sudah dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia, dengan lebih dari 600 spesies koral, 1.630 spesies ikan karang dan satwa karismatik megafauna seperti paus, lumba-lumba, manta, penyu serta cenderawasih dapat ditemui di sana.
Kekayaan biodiversitas itu juga dilengkapi dengan ekosistem beragam mulai dari kars, laguna, padang lamun sampai hutan tropis yang menghiasi pulau-pulaunya.
Masyarakat di Kampung Pam menyadari betul kehidupan mereka terkait erat dengan alam. Menjaganya agar tetap lestari menjadi salah satu prinsip yang mereka terus lakukan.
Salah satunya dengan tradisi sasi, larangan untuk mengambil hasil sumber daya alam tertentu untuk menjaga kelestariannya.
Yang dilakukan di Kampung Pam adalah sasi di reef atau karang/daratan kering di tengah laut di dekat desanya. Tempat itu di-sasi karena menjadi wilayah tempat ikan-ikan berkembang biak, ikan-ikan yang kemudian dinikmati oleh masyarakat di Kepulauan Pam.
Tidak hanya itu, sasi juga diberlakukan untuk beberapa hasil hutan. Sebuah bukti, kata Nikolas, bahwa masyarakat setempat sudah sadar betul alam dan manusia di Raja Ampat membentuk simbiosis yang saling mengisi kehidupan satu dengan lainnya.
Karena itu, tidak mengherankan ketika warga di Kampung Pam mulai mengeluh kepada Nikolas sebagai Kepala Kampung tentang kerusakan karang yang ditimbulkan oleh kunjungan kapal wisata.
Meningkatnya popularitas Raja Ampat sebagai lokasi menyelam menyebabkan bertambahnya jumlah wisatawan di sejumlah titik. Peningkatan itu juga berarti semakin bertambahnya tekanan terhadap terumbu karang, salah satunya dari jangkar yang digunakan kapal-kapal wisata untuk berlabuh.
Padahal, wilayah itu sudah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan oleh pemerintah dengan luas 1.348.459,47 hektare, menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Kerusakan karang itu nantinya tidak hanya akan berpengaruh kepada wisata tapi juga kehidupan masyarakat yang berdiam di wilayah setempat.
Pemasangan tambat labuh
Inovasi harus dilakukan untuk memastikan karang-karang tersebut dapat tetap terjaga. Salah satunya dengan menggunakan tambat labuh atau mooring untuk kapal wisata.
Fasilitas itu dirancang untuk menggantikan praktik penambatan kapal menggunakan jangkar yang berisiko merusak terumbu karang, terutama di lokasi wisata selam dengan tingkat kunjungan tinggi.
Pemasangan pertama dilakukan pada 2024 oleh Konservasi Indonesia (KI) yang memasang dua mooring di perairan Friwen, Raja Ampat. Dengan enam unit dipasang pada periode ini, yang dilakukan KI bekerja sama dengan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat.
Pemasangan tahap kedua mooring itu diresmikan oleh Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu yang ditandai dengan upacara adat di perairan Kepulauan Pam pada Rabu (21/1).
Senior Vice President and Executive Chair KI Meizani Irmadhiany menjelaskan pemasangan tambat labuh menjawab tantangan utama keluar masuk kapal yang membuang jangkar di wilayah tersebut.
Dengan studi yang dilakukan KI bersama beberapa mitranya memperlihatkan kebutuhan sekitar 157 titik mooring yang harus dipasang di seluruh wilayah Raja Ampat.
Sistem itu sendiri bekerja dengan satu unit boya (buoy) besar yang dilengkapi dengan pemberat dipasang di satu titik. Pemberat itu memastikan boya itu tidak bergeser dan sudah dilengkapi dengan tali untuk menjadi tambatan kapal.
Di satu mooring dapat menjadi lokasi parkir bagi tiga kapal bersamaan, dengan ukuran kapal berat 200 sampai 250 ton.
Tidak hanya untuk menekan potensi kerusakan, mooring itu juga berpotensi mendukung peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya sendiri telah mengeluarkan Surat Edaran Gubernur tentang Wajib Penggunaan Mooring dan Pembayaran Retribusi Mooring pada Kawasan Konservasi di Perairan Raja Ampat yang ditujukan kepada operator kapal wisata dan liveaboard.
Aturan itu memastikan pengawasan dilakukan oleh BLUD UPTD bersama aparat terkait dan masyarakat adat, sementara penerimaan retribusi dikelola secara resmi untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi.
Para operator harus membayar biaya parkir di mooring secara tahunan yang dilakukan ke BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat.
Uji coba sudah dilakukan di dua mooring yang sudah dipasang sejak 2024. Dengan data KI memperlihatkan sekitar 250 kapal telah melakukan tambat labuh. Tanggapan dari operator kapal wisata cukup antusias, didukung dengan sosialisasi terus menerus oleh pemerintah daerah dan BLUD.
Tidak hanya itu, dari biaya Rp85 juta per tahun per kapal yang dibayar kepada BLUD juga dilakukan dengan sistem berbagi hasil dengan masyarakat. Direncanakan 10 persen dari biaya parkir mooring itu akan langsung dibagikan kepada desa.
Diharapkan dengan adanya pengaturan itu akan menarik investor yang bekerja sama dengan BLUD, mengingat potensi pendapatan yang didapat dari instalasi tersebut.
Raja Ampat lestari
Pemasangan mooring itu diharapkan dapat menjadi jawaban dari pertanyaan masyarakat di Kampung Pam, bagaimana menjaga alam mereka tetap lestari tapi memastikan kunjungan wisata tidak terganggu.
Di setiap unit mooring juga itu terlampir doa dari masyarakat, yang disampaikan saat upacara adat dilakukan di tengah perairan dan dipimpin oleh Kepala Adat Kampung Pam, Wem Mambrasar.
Dalam doa itu, dia menyampaikan terima kasih kepada moyang orang Kepulauan Pam, kepada tete (kakek) dan nenek telah membawa mereka ke tempat yang bagus tersebut. Karena itu, mereka berkewajiban untuk menjaganya, tidak hanya yang ada di atas dan dan laut, tapi juga kekayaan alam di darat.
Masyarakat, katanya, meminta penyertaan untuk kegiatan penempatan mooring tersebut dan memastikan fungsinya berjalan sesuai dengan tujuannya. Yaitu menjaga kelestarian terumbu karang dan menjadi berkat bagi masyarakat.
Wem mengatakan bahwa atas permintaan dari masyarakat adat, di setiap unit mooring dipasang juga terikat daun-daun kelapa, untuk mengundang ikan-ikan. Sehingga tidak hanya menunggu kapal yang akan terparkir, tapi juga menjadi lokasi warga mencari ikan.
Inovasi konservasi sudah dilakukan, doa sudah dipanjatkan oleh mereka yang berdiam di Raja Ampat, demi memastikan keindahan dan kekayaan sepenggal surga itu dapat tetap dinikmati oleh generasi mendatang.
