Jakarta (ANTARA) - Dr. Devie Rahmawati, Associate Professor Program Vokasi Universitas Indonesia, bersama tim peneliti dari Indonesia melakukan dialog lintas pemangku kepentingan, melibatkan unsur pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta, untuk memperdalam praktik circular economy yang berangkat dari kekuatan community resilience (ketangguhan komunitas).
Dalam materi yang disiapkan, Devie menyampaikan bahwa circular economy tidak bisa dipersempit sebagai persoalan teknis pengelolaan sampah atau inovasi material semata, melainkan proyek sosial yang menuntut perubahan perilaku, kepemilikan lokal, dan disiplin kolektif.
“Circular economy must begin with people,” tegas Devie yang berada di Yatsugatake, Jepang.
Aktivis sosial ini juga menekankan bahwa kekuatan Indonesia sesungguhnya terletak pada modal sosial, jejaring relawan dan budaya gotong royong, yang terbukti tangguh dalam situasi bencana dan krisis, serta dapat menjadi aset inti untuk transisi menuju ekonomi sirkular.
Devie juga menyoroti bahwa Indonesia memiliki arah kebijakan dan inisiatif sirkular yang mulai berkembang, namun tantangannya sering muncul pada penerjemahan yang konsisten di level komunitas dan praktik sehari-hari.
Karena itu, kunjungan pembelajaran ke Jepang dilakukan untuk memahami “kebiasaan kecil yang menjadi sistem besar”, di mana sirkularitas dijalankan sebagai disiplin harian, ditopang pola pikir jangka panjang dan community-based stewardship.
Salah satu fokus pembelajaran adalah pendekatan Morino Office Green Community yang menekankan perilaku sirkular sehari-hari, penghormatan pada alam dan material, serta budaya learning-by-doing, bukan sekadar kampanye.
Pendekatan Morino Office Green Community juga memperlihatkan bagaimana jejaring komunitas membangun kebiasaan zero waste dan aktivitas berbasis partisipasi warga sebagai ruang belajar bersama.
Devie menyebut proses ini penting bagi Indonesia, dimana energi relawan yang besar perlu “dijembatani” menjadi rutinitas komunitas yang preventif, sistem yang berulang, serta learning loops, yang membuat perubahan bertahan lama.
Pengalaman Indonesia melalui inisiatif seperti Siberkreasi, Relawan Aceh Tangguh, Klinik Digital, dan Siap Bergerak, menunjukkan bahwa ketahanan komunitas tidak lahir dari struktur yang kaku, melainkan dari relasi yang hidup dan saling percaya,” ujar Devie.
“Di ruang-ruang inilah masyarakat belajar untuk tidak hanya pulih dari krisis, tetapi juga membangun kebiasaan baru yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan bermakna," katanya.
“Ketika komunitas diberi ruang untuk terlibat, belajar bersama, dan mengambil kepemilikan atas solusi, maka perubahan tidak lagi bersifat sementara, karena menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Inilah titik temu antara pengalaman Indonesia dan pembelajaran dari Morino Office Green Community, bahwa keberlanjutan dibangun melalui praktik kecil yang konsisten, bukan melalui intervensi sesaat,” lanjutnya.
“Circular economy, dalam konteks ini, bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi cerminan etika sosial: bagaimana kita merawat sumber daya, relasi, dan masa depan secara bersama-sama.
Diskusi tersebut diikuti oleh M. Zaky Ramadhan (Folks Strategic), Assoc. Prof. Dr. La Mani (Bina Nusantara University), Dr. Wiratri Anindhita (Universitas Negeri Jakarta), serta Elly Muliawan (SGI). Keempatnya berkontribusi aktif dalam membedah bagaimana prinsip ekonomi sirkular dapat dioperasionalkan melalui tata kelola komunitas, kebijakan lokal, dan praktik sosial yang konsisten.
Diskusi dilakukan bersama Green Community Morino Office, Kagome Farm : Yuta Matsuda, Seira Nakanishi, Dr. Hideki Sakamoto dan Novi Kresna Murti.
Sebagai penutup, Devie menegaskan bahwa ekonomi sirkular yang kuat bukan hanya soal teknologi, melainkan soal ketahanan sosial: “Circular economy honors what we have; community resilience ensures it endures.”
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026