Jakarta (ANTARA) - Associate Professor, Program Vokasi Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati dan M. Zaky Ramadhan (praktisi transformasi organisasi, Folks Strategic) menegaskan bahwa nilai-nilai Daisaku Ikeda tentang dialog, value creation, dan penghormatan pada martabat kehidupan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan sosial yang nyata, salah satunya melalui inisiatif pendidikan Yayasan Pendidikan Kader Bangsa Indonesia (YPKBI / Kader Bangsa Foundation).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian kegiatan dialog dan kuliah umum di hadapan mahasiswa internasional Soka University dan perwakilan komunitas Soka Gakkai, yang berlangsung di Toda International Memorial Hall.
Dalam materi kuliahnya, Devie menekankan bahwa pendidikan bukan hanya jalur akademik, melainkan instrumen sosial untuk menjaga kemanusiaan, khususnya di tengah tantangan era digital.
“Di tengah dunia yang semakin bising dan terfragmentasi, pendidikan harus menjadi tempat anak menemukan makna, arah, dan keberanian untuk menciptakan nilai bagi orang lain,” ujar Devie, wakil pembina YPKBI.
Wakil Dewan Pengawas YPKBI, Zaky Ramadhan menjelaskan bahwa YPKBI dibangun sebagai ikhtiar memperluas akses bagi anak-anak Indonesia, terutama yang cerdas dan berpotensi, agar memperoleh pendidikan terbaik, termasuk peluang melanjutkan studi ke luar negeri.
Devie menegaskan bahwa inisiatif ini, salah satunya untuk merespon kegelisahan moral yang sama dengan ajaran Daisaku Ikeda, ketika banyak anak muda menghadapi kesepian, kekerasan, dan kebingungan identitas di ruang digital, masyarakat tidak boleh sekadar menyalahkan, tetapi harus hadir dan membangun sistem pendampingan yang nyata.
Zaky memaparkan bahwa YPKBI mengembangkan jaringan sekolah berasrama dengan standar global, termasuk kurikulum International Baccalaureate (IB), sebagai ekosistem pembelajaran yang menekankan cara berpikir kritis, refleksi, dan pembentukan karakter.
“Dalam dunia digital yang penuh percepatan, anak muda sering diposisikan hanya sebagai calon pemimpin masa depan. Padahal, mereka adalah aktor moral hari ini. Karena itu, YPKBI memandang pendidikan sebagai praktik humanisme yang hidup, selaras dengan gagasan Daisaku Ikeda bahwa perdamaian dibangun melalui manusia, satu per satu, melalui pendidikan yang menumbuhkan keberanian, kebijaksanaan, dan welas asih,” seru Zaky Ramadhan
Devie menambahkan bahwa transformasi pendidikan harus dimulai dari pengalaman sehari-hari anak yaitu hubungan yang positif dengan figur dewasa, budaya dialog yang konsisten, dan aktivitas kolektif yang memberi makna.
“Di dunia digital, tidak cukup hanya memberi informasi. Yang dibutuhkan adalah activation, ruang offline yang membangun kebiasaan dialog, tanggung jawab, dan kontribusi sosial. Kami menilai pendekatan ini penting agar anak-anak cerdas tidak terperangkap dalam ekosistem digital yang dapat mendorong isolasi sosial, radikalisasi ide, atau normalisasi kekerasan,” jelas Devie.
Zaky menyampaikan bahwa salah satu jaringan sekolah YPKBI yaitu Kemala Taruna Bhayangkara, memberikan pendidikan berasrama tanpa biaya bagi 160 siswa terpilih, dari 14 ribu pendaftar. setiap anak, diterima melalui seleksi ketat, karena bangsa ini, membutuhkan lebih banyak ruang bagi potensi terbaik generasi muda.
“Tujuan akhirnya sederhana yaitu memastikan anak-anak cerdas Indonesia tidak tumbuh sendirian, tidak kehilangan kompas makna, dan tidak ditarik oleh narasi kekerasan yang menawarkan ‘pelukan palsu’ di ruang digital,” ujar Devie.
Kuliah umum ini juga diperkuat kontribusi akademik dari Assoc. Prof. Dr. La Mani (Bina Nusantara University) dan Dr. Wiratri Anindhita (Universitas Negeri Jakarta), yang menyatakan dukungan terhadap lahirnya Yayasan Pendidikan Kader Bangsa Indonesia (YPKBI) sebagai respons institusi yang relevan terhadap tantangan generasi muda di Indonesia saat ini.
Lamani menilai YPKBI sebagai contoh konkret upaya membangun ruang sosial yang terstruktur bagi anak muda, ruang yang memungkinkan dialog, pembelajaran bersama, dan pengelolaan perbedaan berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.
“Dalam konteks masyarakat yang semakin terfragmentasi, inisiatif seperti YPKBI penting karena menyediakan wadah institusional tempat anak muda belajar berinteraksi, berdialog, dan bertumbuh bersama. Ini bukan sekadar proyek pendidikan, tetapi investasi jangka panjang,” imbuh Wiratri.
“Di masa ketika kebaikan mudah hilang dalam kesibukan, kita harus merawatnya dengan sistem. Pendidikan adalah salah satu cara paling nyata untuk itu,” tutup Devie.
Dalam rangkaian kegiatan ini, delegasi Indonesia turut didampingi oleh Elly Muliawan selaku perwakilan Soka Gakkai Indonesia (SGI), bersama rekan-rekan pendamping dari Soka Gakkai International yakni Koharu Saito, Koichi Kawabe, dan Ayumi Shinoki. Pendampingan tersebut memperkuat koordinasi lintas institusi sekaligus menjaga suasana dialog yang inklusif dan saling menghormati.
Merawat masa depan anak Indonesia dengan pendidikan humanis
Selasa, 20 Januari 2026 14:56 WIB
Dialog dan kuliah umum di hadapan mahasiswa internasional Soka University dan perwakilan komunitas Soka Gakkai, yang berlangsung di Toda International Memorial Hall. ANTARA/Dok Pribadi
