Depok (ANTARA) - Associate Professor Program Vokasi Universitas Indonesia (UI) Dr. Devie Rahmawati menegaskan bahwa nilai-nilai Daisaku Ikeda bukan sekadar warisan pemikiran, melainkan panduan hidup yang terus menemukan relevansinya dalam praktik sosial di Indonesia.
Pernyataan ini disampaikannya saat memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa internasional Soka University dan anggota Soka Gakkai International di Toda International Memorial Hall.
Dalam paparannya, Devie menekankan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang sangat majemuk, dari sisi etnis, agama, bahasa, hingga kondisi sosial, tidak mungkin dirawat hanya dengan pendekatan struktural atau kebijakan formal semata.
“Indonesia terlalu beragam untuk dipersatukan dengan ketakutan. Ia hanya bisa dirawat dengan dialog, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” ujar Devie dalam keterangannya, Senin.
Pemerhati isu sosial ini menjelaskan bahwa ajaran Daisaku Ikeda tentang dialog, value creation, dan respect for life menjadi sangat kontekstual bagi Indonesia hari ini, terutama ketika dunia menghadapi fragmentasi sosial, polarisasi digital, dan krisis makna di kalangan anak muda.
“Daisaku Ikeda mengajarkan bahwa dialog bukan untuk menang, tetapi untuk menghidupkan. Bukan untuk membungkam perbedaan, tetapi untuk menjadikannya sumber kebijaksanaan bersama,” lanjutnya.
Devie juga memberikan apresiasi khusus kepada anggota Soka Gakkai di Indonesia, yang menurutnya telah mempraktikkan ajaran Ikeda secara konsisten dan sunyi, melalui pelayanan sosial, pendampingan masyarakat, dan kerja-kerja kemanusiaan yang sering kali tidak terlihat publik.
“Saya menyaksikan sendiri bagaimana nilai-nilai Ikeda hidup melalui tindakan kecil namun konsisten di ruang-ruang yang tidak nyaman, tidak populer, bahkan sering dihindari. Justru di sanalah martabat manusia dijaga,” ungkapnya.
Devie menambahkan bahwa praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa kedamaian tidak dibangun dari panggung besar, tetapi dari pengabdian sehari-hari.
Pada sesi selanjutnya, M. Zaky Ramadhan, praktisi transformasi organisasi, Folks Strategic, menyampaikan tambahan materi bertajuk “Youth Well-Being in the Digital Age: From Philosophy to Practice”, yang menjelaskan bagaimana humanisme diuji dalam situasi nyata, di kota besar, krisis sosial, dan institusi publik, serta pentingnya mengubah pendekatan negara dari dominasi menuju dialog dan perlindungan martabat manusia.
Zaky juga menyampaikan contoh konkret penerjemahan nilai dialog dan kemanusiaan dalam konteks kebijakan dan institusi publik di Indonesia, khususnya dalam isu kesejahteraan anak muda dan transformasi organisasi.
Kuliah umum ini juga diperkuat oleh paparan akademik dari Assoc. Prof. Dr. La Mani (Bina Nusantara University) dan Dr. Wiratri Anindhita (Universitas Negeri Jakarta), yang menyoroti pentingnya dialog, literasi media, dan resiliensi komunitas dalam menjaga kepercayaan publik di era digital.
La Mani menekankan bahwa nilai dialog yang diperjuangkan Daisaku Ikeda memiliki relevansi kuat dalam konteks masyarakat majemuk, terutama sebagai mekanisme sosial untuk mengelola perbedaan dan mencegah polarisasi.
Sedangkan Wiratri menyampaikan bahwa ajaran Ikeda tentang kemanusiaan dan dialog memberi kerangka moral yang relevan untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan kebutuhan manusia akan makna, relasi, dan rasa aman.
Menutup sesinya, Devie menyampaikan refleksinya yaitu :
“Masyarakat tidak runtuh karena kebencian semata, tetapi karena kebaikan perlahan menghilang. Ajaran Daisaku Ikeda mengingatkan kita bahwa kebaikan harus dirawat, secara sadar, konsisten, dan bersama-sama.”
Kegiatan ini menjadi bagian dari dialog akademik dan kemanusiaan lintas negara, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai ruang praktik hidup nilai-nilai humanisme, dialog, dan perdamaian, sebagaimana yang diajarkan Daisaku Ikeda.
Kegiatan ini juga didampingi oleh Elly Muliawan sebagai perwakilan Soka Gakkai Indonesia (SGI), serta tim pendamping dari Soka Gakkai International yaitu Koharu Saito, Koichi Kawabe, dan Ayumi Shinoki. Kehadiran dan dukungan mereka membantu memastikan rangkaian dialog berjalan hangat, tertib, dan kondusif bagi pertukaran gagasan lintas budaya.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026