Depok (ANTARA) - Di tengah krisis iklim global yang semakin kompleks, persoalan utama yang dihadapi dunia hari ini bukan lagi sekadar kurangnya data, melainkan bagaimana data tersebut dikomunikasikan agar mampu mendorong aksi nyata.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk “The Regenerative Dialogue Series: From Awareness to Action : How Communication Drives Real Change in Climate Works”, yang diinisiasi oleh Asia Regenerative Academy (ARA) bersama Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI) dan Klinik Digital.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program beasiswa magang mahasiswa Indonesia dan Jepang yang berfokus pada edukasi sustainability, climate change, dan komunikasi strategis oleh ARA, DRRC UI dan Klinik Digital.

Peserta magang perdana ini berasal dari Okayama University, Jepang dan Program Vokasi Universitas Indonesia.

Pembicara utama, Dwi Rahardiani (Country Director, Oxford Policy Management Indonesia), menegaskan bahwa komunikasi memegang peranan strategis dalam memastikan keberhasilan kebijakan, terutama dalam isu perubahan iklim.

Dwi menyampaikan bahwa banyak kebijakan perubahan iklim telah didukung oleh data yang kuat. Namun, tantangannya adalah bagaimana kebijakan tersebut dikomunikasikan agar dapat dipahami, diterima, dan dijalankan secara efektif oleh berbagai pihak.

“Komunikasi bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi memastikan pesan tersebut relevan dan bermakna bagi audiens yang ingin dituju,” jelasnya.

Dwi juga menyoroti pentingnya konteks lokal dalam merancang strategi komunikasi. “Setiap individu dan komunitas memiliki perspektif, latar belakang, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pesan tidak bisa generik. Ia harus kontekstual agar bisa diterima.”

Dalam konteks kebijakan publik, Dwi juga menekankan bahwa upaya penanganan perubahan iklim tidak dapat dilepaskan dari agenda pembangunan berkelanjutan, yang pada dasarnya menuntut keseimbangan antara aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.

“Proses komunikasi tidak harus selalu menyelesaikan semuanya. Tapi harus mampu menetapkan tujuan yang jelas, seperti untuk meningkatkan awareness atau mendorong perubahan perilaku.”

Komunikasi dapat berperan dalam membingkai isu kompleks perubahan iklim agar lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya melalui dampaknya terhadap harga pangan, kesehatan, atau peluang ekonomi.

Sehingga, masyarakat dan pemangku kepentingan dapat melihat keterkaitannya dengan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, lalu terdorong untuk mengambil peran dalam mendukung solusi yang ada.

Menutup diskusi, Devie Rahmawati mewakili DRRC UI & Klinik Digital,  menegaskan bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan pada kurangnya gagasan atau ide tentang bagaimana mengatasi climate change, namun, kekurangan aksi nyata yang konsisten.

“Kita memiliki data yang cukup tentang climate change (perubahan iklim), namun yang dihadapi adalah kelemahan dalam mengkomunikasikan data tersebut menjadi makna yang relevan bagi masyarakat," katanya.

Riset menunjukkan bahwa komunikasi yang terlalu berbasis ketakutan tanpa solusi misalnya, justru memicu kecemasan, kelelahan emosional, bahkan penolakan.

"Sebaliknya, komunikasi yang terlalu normatif, formal, tanpa kredibilitas juga tidak mendorong perubahan. Di sinilah tantangannya, agar menghadirkan komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu membangun rasa keterhubungan, sense of urgency (kedaruratan), dan ujungnya bergerak.” katanya.

Devie juga mengingatkan bahwa komunikasi harus mampu menjembatani antara pengetahuan dan tindakan.

“Kita tidak kekurangan informasi, namun yang  dibutuhkan adalah kemampuan untuk membuat orang memahami, merasa terhubung, dan akhirnya bertindak.”

Sementara itu, Novi Kresnamurti menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari. “Cerita nyata dari lingkungan sekitar jauh lebih mudah diterima masyarakat dibandingkan data yang abstrak.”

Novi juga berbagi pengalaman langsung terkait perubahan iklim yang ia rasakan di Jepang. “Perubahan musim yang tidak menentu dan fenomena alam yang berubah menjadi bukti bahwa isu ini bukan lagi sesuatu yang jauh.”

ARA: Membangun Generasi yang Tidak Hanya Tahu, Tapi Bertindak

Diskusi ini merupakan bagian dari inisiatif Asia Regenerative Academy (ARA) dalam membangun ekosistem pembelajaran lintas negara.

Melalui program beasiswa magang Indonesia & Jepang, ARA tidak hanya mendorong pemahaman akademik, tetapi juga membentuk generasi muda yang mampu: berpikir kritis memahami kompleksitas global dan mengomunikasikan solusi secara efektif.

Diskusi ini menegaskan satu hal bahwa “krisis iklim bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga krisis komunikasi”.

Tanpa komunikasi yang tepat, pengetahuan tidak menjadi aksi, dan kebijakan tidak menjadi perubahan.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026