Depok (ANTARA) - Penguatan perbankan dan UMKM sesungguhnya berjalan dalam satu tarikan napas. Keduanya berada dalam ekosistem yang saling menghidupi, dan kini kian relevan di tengah percepatan ekonomi digital.
Ketika perbankan tumbuh lebih kokoh, ditopang permodalan yang kuat, tata kelola yang disiplin, serta adopsi teknologi keuangan yang kian matang, ruang pembiayaan produktif bagi UMKM ikut melebar.
Sebaliknya, UMKM yang bertumbuh sehat, adaptif, dan semakin formal justru memperkuat fungsi intermediasi perbankan. Di titik inilah terbentuk siklus saling menguatkan yang dampaknya melampaui neraca keuangan, menjalar hingga ke ketahanan ekonomi nasional.
UMKM selama ini menjadi fondasi utama ekonomi Indonesia. Hingga akhir 2024, jumlahnya tercatat sekitar 30,18 juta unit, dengan dominasi usaha mikro, sektor perdagangan, serta penyediaan akomodasi dan makanan, sektor-sektor yang menjadi denyut ekonomi lokal di hampir seluruh provinsi.
Kontribusinya terhadap produk domestik bruto melampaui 60 persen dan menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja nasional.
Angka-angka ini menegaskan satu hal, setiap perbaikan kecil pada akses pembiayaan, digitalisasi usaha, dan formalitas bisnis akan memantul menjadi efek berantai, menopang konsumsi rumah tangga, memperluas pemerataan ekonomi, sekaligus mendorong produktivitas nasional.
Optimisme semakin terasa seiring menguatnya UMKM berbasis digital. Transformasi digital perlahan mengubah wajah usaha kecil, pencatatan keuangan yang lebih tertib lewat aplikasi, pemasaran yang menembus batas geografis melalui platform daring, hingga transaksi non-tunai yang transparan dan tercatat.
Pada 2025, sekitar 63 persen UMKM di Indonesia telah memanfaatkan alat digital dalam proses bisnis mereka. Ini bukan sekadar angka adopsi teknologi, melainkan penanda perubahan perilaku usaha di akar ekonomi.
Sistem pembayaran QRIS menjadi salah satu simbol paling nyata dari perubahan itu. Dengan puluhan juta merchant terdaftar, lebih dari 93 persennya UMKM, QRIS telah menjadi tulang punggung transaksi non-tunai di sektor usaha kecil.
Pola transaksi yang sebelumnya cair dan sulit dilacak kini meninggalkan jejak data yang rapi. Bagi perbankan, jejak inilah yang bernilai strategis.
Data transaksi digital, histori penjualan, dan arus kas yang tercatat memungkinkan penilaian risiko yang lebih akurat dan inklusif.
UMKM yang dahulu berada di wilayah abu-abu, dianggap tidak layak pembiayaan formal, perlahan masuk ke radar pembiayaan perbankan.
Digitalisasi juga mempermudah pembukuan sederhana, salah satu prasyarat utama dalam proses persetujuan kredit. Dalam konteks ini, teknologi tidak hanya mempercepat transaksi, tetapi juga memperpendek jarak antara UMKM dan lembaga keuangan.
Peran kebijakan publik ikut mempercepat sinergi tersebut. Program Kredit Usaha Rakyat, misalnya, kini tidak semata mengejar volume penyaluran, tetapi diarahkan pada pembiayaan berbasis produktivitas dan digital.
Hingga awal November 2025, realisasi KUR telah mencapai sekitar Rp228 triliun, mendekati target tahunan nasional. Arah kebijakan ini menandai pergeseran penting, pembiayaan tidak lagi sekadar menopang kelangsungan usaha, melainkan mendorong UMKM naik kelas dalam ekosistem ekonomi digital.
Bank Indonesia pun mengambil peran melalui berbagai inisiatif, salah satunya Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia. Forum ini menegaskan bahwa adopsi keuangan digital di Indonesia bertumpu pada UMKM, sekaligus memperlihatkan betapa transformasi ekonomi kini digerakkan dari bawah, dari pelaku usaha kecil yang kian melek teknologi.
Di daerah, peluang sinergi ini semakin terbuka. Provinsi seperti Bengkulu, yang mencatat pertumbuhan ekonomi positif dalam beberapa tahun terakhir, berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan momentum tersebut.
Struktur ekonominya, yang ditopang perdagangan, kuliner, pariwisata, dan jasa, selaras dengan karakter UMKM. Ketika pelaku usaha lokal mulai mengadopsi alat digital dan layanan perbankan modern, nilai tambah ekonomi pun menguat.
Dengan bank lokal dan nasional yang semakin responsif terhadap segmen UMKM digital, Bengkulu memiliki ruang untuk memperbesar skala usaha kecil melalui pembiayaan mikro berbasis data digital, penguatan literasi keuangan, serta akses pelatihan pemasaran daring.
Langkah-langkah ini tidak hanya meningkatkan produktivitas UMKM, tetapi juga memperkuat basis konsumsi dan investasi domestik di daerah.
Ke depan, sinergi antara perbankan yang kuat dan UMKM yang digital menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Digitalisasi membuka akses pembiayaan yang lebih luas, memperkaya basis data untuk penilaian kredit, serta menciptakan jalur nilai tambah baru bagi usaha kecil.
Ketika perbankan terus bertransformasi dan UMKM semakin adaptif terhadap teknologi, ekonomi nasional, termasuk daerah seperti Bengkulu, akan memiliki mesin pertumbuhan yang lebih merata, berdaya saing, dan tangguh menghadapi dinamika global.
Penulis: Aprikie Putra Wijaya, S.Pi - Alumnus IPB University, Peneliti INPEC (Indonesian Politic and Economic Center).
