Jakarta (ANTARA) - Indonesia kembali melangkah ke garda terdepan dalam upaya membangun ketahanan digital bangsa dengan meluncurkan Indeks Kematangan Budaya Keamanan Siber (IKBKS).
Kolaborasi lintas lembaga dan generasi ditunjukkan dalam Festival Digital Aman 2025 yang dihadiri lebih dari 200 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, praktisi, dan aparat negara.
Acara ini menampilkan para narasumber unggulan seperti Nanang Cahyana (Praktisi Keamanan Siber), Pritania Savitri (ChildFund Indonesia), Rikson Gultom (BSSN), serta Arafi Achmad (Komunitas Xyrohub), para figur muda yang menyuarakan semangat baru dalam membangun ruang digital yang aman dan sehat.
Menurut Devie Rahmawati, associate professor dari Vokasi UI mengatakan kita tidak bisa menunggu krisis untuk sadar. Dunia digital itu seperti laut lepas: indah tapi bisa mematikan.
Kalau posting selfie, komentar di medsos, ataupun klik link undangan online... itu semua bisa jadi pintu serangan. Tapi bisa juga, jadi titik perubahan. Dan itulah kenapa IKBKS penting: karena perubahan budaya dimulai dari kesadaran kecil yang dilakukan bersama.
“IKBKS mengukur "kematangan budaya", bukan sekadar perangkat atau regulasi, tetapi bagaimana kesadaran, kolaborasi, dan kebijakan yang menyatu dalam menciptakan sistem keamanan digital yang adaptif dan inklusif.
IKBKS melengkapi secara strategis indeks-indeks lain seperti IMDI (Indeks Masyarakat Digital Indonesia). Jadi, literasi digital bukan hanya soal paham teknologi.
Tapi apakah kita punya refleks sehat dalam bersikap di dunia digital? Apakah sekolah sudah melatih untuk berpikir kritis soal informasi? Apakah kota sudah siap kalau diserang ransomware?, inilah yang kami ukur,” seru Devie Rahmawati, tim peneliti IKBKS.
"Banyak indeks bicara infrastruktur. Tapi kita perlu tahu: apakah manusianya sudah siap? Inilah yang kami ukur. Mimpi kami, indeks ini tidak berhenti di peluncuran. Tapi hidup dalam tindakan-tindakan nyata: pelatihan, kebijakan, kampanye, dan kebiasaan harian, ” imbuh Hendra Kaprisma, tim peneliti IKBKS, Assoc. Professor dari FIB UI.
“Kita nggak bisa melindungi apa yang kita tidak pahami. Apalagi di ruang digital, bahaya bisa datang diam-diam dan sistemik. Maka, kami susun indeks ini sebagai alat ukur ilmiah. Ketahanan digital Indonesia tidak dapat dibangun oleh para ahli saja. Tapi oleh setiap anak muda yang membangun empati, dan menjaga ruang digital tetap manusiawi,” tambah Nurita Handayani, tim peneliti IKBKS dari Universitas Pancasila.
“Data IKBKS memuat hasil pengukuran pada empat pilar utama: literasi digital, respons insiden, tata kelola dan regulasi, serta sinergi antar pemangku kepentingan. IKBKS bukan rapor merah, melainkan peta jalan perubahan. Indeks ini menjadi alat refleksi: di mana kekuatan kita, di mana yang perlu diperbaiki. Budaya siber bukan hanya tugas IT, tapi seluruh bangsa,” jelas Ketua Tim Pengukuran Budaya Keamanan Siber, Direktorat Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN Indy Rahmadhona
Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi, BSSN, Satryo Suryantoro, yang diwakili oleh sandiman ahli madya, Christyanto Noviantoro, dalam sambutannya bahwa festival ini menjadi momen penting bagi kita untuk memperkenalkan sejumlah inisiatif strategis dari Direktorat Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi.
Hari ini, kita bersama-sama menyaksikan Launching Indeks Kematangan Budaya Keamanan Siber (IKBKS), sebagai barometer kemajuan budaya keamanan siber di Indonesia.
Melalui indeks ini, kita dapat mengukur sejauh mana kesadaran, perilaku, dan kebijakan keamanan siber telah terinternalisasi di seluruh lapisan masyarakat dan lembaga.
“Selain itu, kita juga menghadirkan Game Literasi Keamanan Siber, inovasi edukatif yang dirancang agar anak-anak dan remaja dapat belajar mengenai keamanan digital dengan cara yang interaktif dan menyenangkan. Kami percaya bahwa generasi muda tidak hanya perlu melek digital, tetapi juga tangguh dan bertanggung jawab dalam aktivitas daringnya, “ tutup Christyanto
Festival Digital Aman 2025, dari scroll ke solusi bangkitkan budaya siber cerdas
Senin, 8 Desember 2025 21:00 WIB
Festival Digital Aman 2025, dari scroll ke solusi bangkitkan budaya siber cerdas. ANTARA/HO-dok pribadi
