Jakarta (ANTARA) - PT Pertamina Energy Terminal (PET) menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di sekitar wilayah operasional perusahaan melalui pemberian bantuan alat tangkap kepiting dan udang serta literasi energi bagi warga Tanjung Uban, Bintan, Kepulauan Riau.
Upaya tersebut menjadi salah satu strategi PET, anak usaha PT Pertamina International Shipping (PIS) sekaligus bagian dari PT Pertamina (Persero), untuk menghadirkan manfaat sosial yang nyata dan memperkuat penerapan prinsip keberlanjutan di sektor energi nasional.
“Kami terus memperkuat kontribusi sosial agar keberadaan PET benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ucap Direktur Utama PET, Bayu Prostiyono dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis.
Baca juga: Dua terminal Pertamina Energy Terminal sukses raih Proper Hijau
Ia menuturkan PET Integrated Terminal Tanjung Uban berkolaborasi dengan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Bintan Utara untuk memberdayakan nelayan lokal.
Pihaknya memberikan bantuan alat tangkap (bubu) kepiting dan jaring udang kepada nelayan di Kampung Mentigi sebagai bentuk dukungan nyata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.
Perseroan juga melakukan perbaikan fasilitas sekolah dasar serta menghadirkan program literasi energi bagi pelajar di wilayah Tanjung Uban.
Selain itu, PET menginisiasi kegiatan KolaboraSEA Energy, program edukasi konservasi laut dan pengelolaan sampah pesisir yang melibatkan komunitas muda dan pelajar lokal.
Beragam kegiatan tersebut menjadi bagian dari Kreasea Series, payung besar program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perseroan yang berprinsip Beyond Compliance dan mendukung pencapaian Proper, penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup di seluruh terminal operasional.
Melalui program tersebut, perusahaan tidak hanya menyalurkan bantuan sosial, tapi juga berperan dalam membangun ketahanan ekonomi dan ekosistem pesisir yang berkelanjutan.
Dari sisi operasional, perseroan juga memastikan seluruh kegiatan pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dilakukan secara aman, terpantau, dan sesuai standar Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Kami memastikan seluruh kegiatan operasional, termasuk pengelolaan lingkungan, dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku,” kata Bayu Prostiyono.
Manajer Integrated Terminal Tanjung Uban, Yohannes M. Sianturi menyatakan bahwa pihaknya selalu terbuka untuk berkolaborasi dengan masyarakat, pemerintah daerah, komunitas lokal, akademisi, hingga mitra industri dalam memperluas manfaat program TJSL perusahaan.
“Kami ingin memastikan keberadaan terminal energi ini memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat Bintan. PET terbuka untuk berdialog dan berkolaborasi dalam berbagai inisiatif sosial maupun lingkungan,” ujarnya.
