ketika-si-miskin-berobat-gratis-Ruang tunggu bersuhu sejuk di depan ruangan poliklinik Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa di Jalan Raya Parung, Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terlihat ramai oleh pasien.
Pasien itu terlihat biasa, mereka berpakaian sederhana dengan tubuh kecil, kurus dan berwajah mider. Marni (35) duduk bersama anaknya Suci (5) di ruang tunggu dengan kursi bantalan berwarna hijau.
Suci dengan malu-malunya asik beraktivitas melirik ke kiri ke kanan, ditangan Marni terdapat secarik kertas seperti buku berobat. Ia menunggu di depan poli umum.
"Mau berobat anak saya ini demam sudah dua hari, batuk dan panas," katanya kepada Antara saat mengunjungi rumah sakit tersebut beberapa waktu lalu.
Kedatangan Marni berobat di RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa sudah yang ke empat kalinya. Sebelum Suci, Marni dan suaminya juga pernah berobat disana, bahkan orang tuannya juga.
Marni tinggal di Kampung Pondok Udik, Kecamatan Kemang, untuk bisa berobat di Dompet Dhuafa ia harus menaiki angkutan umum sejauh 30 menit.
Menurut Marni, sebelum ada Dompet Dhuafa ia mengandalkan pengobatan di Puskesmas terdekat.
Sakit apapun yang dirasakan ia mengandalkan puskemas terdekat dan sejauh mungkin menghindari diri untuk berobat ke rumah sakit.
"Kalau sakit parah ditahan sebisa mungkin, jangan sampai dirawat di rumah sakit tidak sanggup bayar kami," kata ibu tiga anak ini.
Sejak berdirinya RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, Marni dan sejumlah tetangga di kampunya sangat berbahagia, karena tidak perlu khawatir memikirkan biaya pengobatan.
Setelah mendengar namanya dipanggil, Marnipun bergegas menarik anaknya masuk ke ruang poly umum, dan ia berlalu dibalik pintu ruangan yang seraya menutup dibalik punggungnya.
Cuma-cuma
RS Rumah Sehat Terpadu (RST) adalah sebuah model rumah penyembuhan yang memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma bagi kaum dhuafa (tidak mampu) dengan pendekatan kehangatan keluarga, ketepatan waktu, professional dan sentuhan hati.
Rumah sakit ini terletak di Jalan Raya Parung KM 42, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, yang secara resmi operasionalnya diresmikan oleh Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman pada 4 Juli 2012 lalu.
Berdiri diatas lahan seluas 7.803 meter persegi dengan total luas tanah 3,2 hektar.
Bangunan rumah sakit yang bergaya Islami ini terdiri dari lima unit bangunan antara lain bangunan utama, gedung rawat anak, High Care unit dan bersalin, gedung rawat orang dewasa, gedung operasi, dapur gizi, power house, ground water tank, koridor, musola dan bangunan pendukung.
Pelayanan yang tersedia meliputi unit gawat darurat, poli umum, klinik spesialias, perawat gigi, konseling rohani dan jiwa, rehabilitasi medik, serta herbal dan acupunture.
Rawat inap diperbesar dan memisahkan tiga kategori pasien yaitu anak-anak, perempuan dan laki-laki.
"Di kawasan ini juga dibangun pusat keperawatan dan taman untuk pemulihan psikis," kata Direktur Utama RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, Yahmin Setiawan.
RS Rumah Sehat Terpadu siap melayani kaum dhuafa yang selama ini sulit mendapatkan akses kesehatan secara memadai. Di Tahun pertama pengoperasian rumah sakit ini, ditargetkan mampu melayani minimal 54.000 pasien dhuafa.
Rumah sehat terpadu Dompet Duafa telah melayani rawat jalan, yang operasionalnya sudah berjalan sejak September 2011.
Rata-rata pasien rawat jalan yang dirawat di Rumah sehat terpadu berjumlah 1.800 orang perbulannya.
Sebanyak 21.000 kepala keluarga dengan asumsi jiwa lebih dari 100.000 orang yang terdaftar sebagai anggota penerima layanan kesehatan gratis di RS RST Dompet Dhuafa.
Hingga akhir 2012 jumlah pasien yang berobat atau disebuta penerima manfaat sebanyak 25.000 orang. Sedangkan dari Januari hingga Maret 2013 tercatat jumlah penerima manfaat untuk rawat jalan per hari mencapai 125 hingga 150 pasien, sedangkan IGD sebanyak 15-20 pasien perhari.
"Rumah sakit ini akan menjadi oase di tengah maraknya kapitalisasi rumah sakit di tanah air, itu yang menjadi harapan kami," katanya.
Pembangunan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa tidak terlepas dari peran penting zakat infak dan sodakoh yang dikelola oleh Badan Amil Zakat Dompet Dhuafa.
Investasi awal pembangunan rumah sakit khusus masyarakat miskin ini menelan dana Rp50 miliar diperuntukkan untuk pembangunan gedung dan alat kesehatan.
Pembangunan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa berawal dari visi dan misi Badan Amil Zakal Dompet Dhuafa membangun Zona Madinah yakni sebuah kawasan tempat mengimplementasikan semua program Dompet Dhuafa.
"Kawasan Madinah ini ada pusat pendidikan, pemberdayaan umat, dan layanan kesehatan yang semuanya gratis," kata Yahmin.
Selain sebagai tempat merealisasikan program Dompet Dhuafa, Zona Madinah tersebut menjadi wujud dari pengelolaan zakat infak sodakoh dari para pemberi zakat rutin atau Muzaki yang jumlahnya mencapai 50.000 orang.
Zona Madinah Dompet Dhuafa pertama didirikan di Jalan Raya Parung, Kecamatan Kemang, merupakan proyek percontohan yang akan terus dikembangkan oleh Dompet Dhuafa untuk menampung daerah Jawa dan Sumatera.
"Dompet Dhuafa menargetkan pada 2012 hingga 2025 Zona Madinah tersebar di semua pulau di Indonesia," kata Yahmin.
Berdirinya RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa merupakan mukjizat dari keutaman zakat, infak dan sodakoh yang telah mampu memberikan layanan pendidikan gratis dan kesehatan gratis untuk masyarakat tidak mampu.
Menurut Yahmin, potensi zakat di Indonesia sebesar Rp170 triliun, sementara yang baru dikelola oleh seluruh Badan amil zakat hanya satu hingga dua persen saja.
Artinya bila terus dikembangkan, tidak menutup kemungkinan zakat bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat miskin.
"Ini sangat bagus sekali, bagaimana sebuah lembaga amil zakat dapat berkembang pesat mengelola dana-dana umat untuk kembalikan kepada masyarakat luas lewat layanan kesehatan gratis," ujar Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan saat mengunjungi rumah sakit tersebut akhir 2012 lalu.
Orang nomor satu di Jawa Barat inipun berkata, pengolahan zakat secara profesional dan baik mampu menghasilkan sebuah gerakan sosial bersama yang dapat membantu pemerintah mengatasi masalah di tengah masyarakat.
"Setahu saya, ini satu-satunya lembaga amil zakat yang sukses mengelola dana umat dan mendirikan rumah sakit gratis untuk dhuafa yang cukup besar," katanya.
Gubernur terpilih itupun berharap sistem zakat yang diterapkan oleh umat Islam dapat dikembangkan digunakan oleh pihak lain. Karena jika zakat dikelola dengan baik potensinya sangat besar.
"Dengan zakat kita bisa mengumpulkan dana triliunan karena potensi zakat khususnya di Jawa Barat cukup besar," katanya.
Laily R
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.