Palembang (ANTARA) - Institusi pers Indonesia mungkin salah satu yang paling kehilangan dengan wafatnya Alex Noerdin, Gubernur Sumsel periode 2008 - 2018, Rabu (25/2) dalam usia 75 tahun.

Di Provinsi Sumatera Selatan, nama Alex Noerdin kerap dikaitkan dengan berbagai inisiatif pembangunan, mulai dari infrastruktur, olahraga, hingga tata kelola pemerintahan. Namun, satu aspek yang tak kalah penting adalah dorongannya terhadap peningkatan profesionalisme pers di Sumatera Selatan (Sumsel).

Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumsel Oktaf Riyadi di Palembang, Kamis, menceritakan  sosok Gubernur Alex Noerdin pada tahun 2009 meminta PWI Sumsel untuk menggelar sebuah event berskala nasional.

Kemudian dalam kesempatan pertemuan pimpinan Ketua PWI di Jakarta pada tahun tersebut, PWI Sumsel tanpa sepengetahuan Alex Noerdin selaku Kepala Daerah, menyatakan siap menjadi tuan rumah untuk pertama kalinya.

"Setelah pulang dari Jakarta, saya laporan ke Gubernur Alex Noerdin, ia langsung menyetujui dan menyatakan Sumsel siap segalanya untuk menyukseskan HPN 2010," katanya.

Salah satu puncak upaya peningkatan profesionalisme pers di Sumsel adalah melalui HPN tersebut, yang melahirkan Piagam Palembang. Inti dari piagam itu adalah menjaga profesionalisme wartawan melalui uji kompetensi wartawan (UKW), serta meningkatkan profesionalisme perusahaan pers.

Piagam Palembang ditandatangani secara resmi oleh 18 pimpinan perusahaan Pers di Indonesia. Yakni Dahlan Iskan (Jawa Pos Group), Agung Adiprasetyo (Kompas Gramedia Group), Ahmad Mukhlis Yusuf (Perum LKBN ANTARA), Syafril Nasution (MNC Group), Chairul Tanjung (Transmedia Group), Syafik Umar (Pikiran Rakyat Group), Budiono Darsono (Detikcom Group), Haryono (LPP TVRI), Kukrit Suryo (Suara Merdeka Group), Taruna Jasa Said (Waspada Group), ABG Satria Narada (Bali Post Group), Sofyan Lubis (Pos Kota Group), Ilham Bintang (Bintang Media Group), Erick Thohir (Republika Group), Svida Alisyahbana (Femina Group), James Ryadi (Jakarta Globe Group), Fahry Muhammad (Smart FM Group), dan Dodi Reza (Panji Media Network).

Perusahaan pers yang menandatangani Piagam Palembang berkomitmen untuk ikut melaksanakan, menjaga, dan menjamin tegaknya kemerdekaan pers, secara sukarela dan penuh tanggung jawab.

Dalam Piagam itu, kemerdekaan pers disebut sebagai salah satu wujud dari kedaulatan berekspresi rakyat berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, supremasi hukum, hak asasi manusia, dan profesionalitas.

Kemudian lahir pula Sekolah Jurnalisme Indonesia pertama kali di Sumsel, dengan kuliah perdana oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kota Palembang.

Dalam tahun yang sama, Sumsel juga menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2010.

Tidak berhenti sampai di situ, pada tahun berikutnya (2011), Sumatera Selatan dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan Wartawan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).

Event Nasional dan Internasional Pers yang sukses terlaksana di Sumsel, berdampak pada Pemprov Sumsel yang saat itu selalu menjadi tuan rumah penyelenggara dan pemberian fasilitas kegiatan UKW.

Sang Pena Emas

Pada tahun 2010 Gubernur Alex Noerdin mendapatkan predikat Sang Pena Emas dari Persatuan Wartawan Indonesia, karena perannya dianggap meningkatkan profesionalisme pers tanah air.

Selain itu, Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) juga memberikan penghargaan sebagai Tokoh Peduli Wartawan ASEAN.

Alex Noerdin menjabat Gubernur Sumsel periode 2008 - 2018. Dia dinilai berhasil membawa perubahan signifikan terhadap wajah Kota Palembang dan sekitarnya.

Sejumlah proyek strategis yang terealisasi pada masa kepemimpinannya antara lain pengembangan Jakabaring Sport City yang menjadi tuan rumah SEA Games 2011 dan Asian Games 2018.

Di sektor transportasi, ia juga mendorong pembangunan LRT pertama di Indonesia di Palembang yang hingga kini menjadi salah satu ikon kota dan sarana transportasi publik andalan masyarakat.

Selain itu, kebijakan sosial seperti program berobat gratis dan sekolah gratis sempat menjadi percontohan di tingkat nasional dalam upaya meningkatkan akses layanan dasar bagi masyarakat.

Mantan Gubernur Sumatera Selatan dua periode 2008 - 2018 Alex Noerdin telah meninggal dunia di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta, Rabu (25/2/2026) pukul 13:30 WIB.

Alex Noerdin wafat dalam usia 75 tahun pada tahun 2026 ini, ia lahir pada tahun 1950.

 

Legasi infrastruktur 

Akademisi Kebijakan Publik yang juga Sekretaris Universitas Sriwijaya, Prof Alfitri, menyebutkan sosok Alex Noerdin meninggalkan jejak legasi infrastruktur di wilayah tersebut.

"Banyak infrastruktur terbangun dalam pemerintahan Alex Noerdin, seperti LRT, Jakabaring Sport City, Jembatan Musi IV, Jembatan Musi 6. Semua itu terwujud guna menopang event - event international di Sumatera Selatan seperti SEA Games 2011 dan ASEAN Games 2018," kata Alfitri di Palembang, Kamis.

Di tengah keterbatasan anggaran Provinsi Sumatera Selatan, serta persaingan dengan daerah-daerah lain di Pulau Jawa khususnya, Alex menyanggupi Sumsel sebagai penyelenggara kegiatan internasional tersebut.

Bahkan sosoknya sebagai pemimpin yang berpikir ke depan dan menyukai tantangan, telah ia tunjukkan sejak menjadi Bupati Kabupaten Musi Banyuasin, Sumsel. Ketika itu, dia menyanggupi kabupaten yang dipimpinnya menjadi salah satu tuan rumah penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024.

Alfitri menilai gaya kepemimpinan Alex tersebut harus terus dilakukan guna memajukan Provinsi Sumatera Selatan.

Selain legasi infrastruktur, Alex Noerdin juga membawa arah kebijakan sekolah gratis dan berobat gratis bagi masyarakat.

"Tentu ini meninggalkan legasi untuk pembangunan Sumsel serta kebijakan yang menyentuh. Sangat terasa bagi masyarakat," katanya.


 



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026