Jakarta (ANTARA) -
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Seribu dan PT Seribu Pesona Indonesia (SPI) menggelar konsultasi publik analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) untuk rencana pembangunan kawasan wisata bahari, resor dan fasilitas penunjang di Pulau Air, Kepulauan Seribu.
“Proyek ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan menjadikan Kepulauan Seribu sebagai destinasi wisata kelas dunia,” kata Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan proyek ini bukan sekadar pembangunan biasa, melainkan telah ditetapkan pemerintah pusat melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 8 Tahun 2023 sebagai PSN.
Baca juga: Kepulauan Seribu aktifkan "Gerakan Wisata Bersih" tingkatkan pariwisata berkelanjutan
Baca juga: 840 orang kunjungi Kepulauan Seribu
“Manfaat terbesarnya adalah serapan tenaga kerja bagi warga lokal. Namun, kita juga harus terbuka bahwa dalam setiap pembangunan pasti ada pro dan kontra,” kata dia.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan wisata bahari ini tidak hanya diukur dari peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat Kepulauan Seribu dapat menjadi tuan rumah yang sejahtera dan bangga terhadap daerahnya.
“Mari kita kawal bersama agar proyek ini benar-benar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan Kepulauan Seribu,” katanya.
Satu syarat
Sementara itu perwakilan PT SPI, Andry Khrisnawan mengatakan konsultasi publik ini merupakan salah satu syarat penyusunan dokumen amdal yang nantinya akan dibawa ke Komisi Penilai Amdal Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta.
Baca juga: Belasan ribu wisatawan kunjungi Kepulauan Seribu
“Kami mohon saran dan masukan dari masyarakat terkait dampak ekonomi maupun ekosistem yang mungkin muncul. Selain itu, masyarakat juga diminta menunjuk perwakilan sebanyak 4–5 orang dari tokoh masyarakat maupun pemuda untuk menjadi anggota penilaian amdal di tingkat provinsi,” katanya.
Rencana kegiatan tahap pertama meliputi reklamasi pada gosong atau daratan sementara yang terbentuk di tengah atau menjorok ke dalam perairan, biasanya terbuat dari pasir, kerikil, atau material ringan lainnya.
Material itu mengendap akibat aliran air dangkal di sekitar perairan Pulau Air dengan total luas 112,4 hektare yang terdiri atas lahan reklamasi sekitar 80 hektar dan sisanya untuk fasilitas penunjang.
