Jakarta (ANTARA) - Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, menjadi saksi perjalanan karir Mohammad Syafii.
Di sanalah perwira tinggi TNI Angkatan Udara ini menghabiskan separuh hidupnya.
Kini perjalanan Syafii memasuki lembaran baru resmi menjabati Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Kini dia bukan lagi menjadi perancang strategi aviasi militer untuk menjaga kedaulatan negara, tetapi mengemban tanggung jawab baru menyelamatkan manusia dari kondisi bahaya di darat, perairan, dan udara.
Pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini memiliki rekam jejak panjang di dunia aviasi militer. Memulai karir sebagai prajurit Angkatan Udara angkatan 1991, ia kemudian tergabung dalam satuan Korps Penerbang, dan semasa muda ia juga pernah menjadi pilot andalan untuk sejumlah misi penanggulangan bencana nasional.
Dengan kemahiran mengendalikan pesawat-helikopter, membawa Syafii pada tugas sebagai instruktur penerbang di Yogyakarta dari 2002 hingga 2013. Karirnya melejit sampai menjabat sejumlah posisi strategis, termasuk Kepala Dinas Operasi Lanud Suryadarma (2009), Kepala Dinas Personel Lanud Adisutjipto (2011), Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (2017), Kepala Dinas Pendidikan TNI AU (2022), hingga Asisten Personel Panglima TNI (2024).

Setiap tahun, lebih dari 2.400 operasi pencarian dan pertolongan dilakukan, dengan lebih dari 20.000 jiwa berhasil diselamatkan, termasuk pula korban yang ditemukan tak bernyawa lagi. Namun di balik angka-angka itu, juga ada perjuangan yang tak selalu terdengar manis.
Tugas Basarnas sungguh penuh risiko. Terbukti dengan gugurnya beberapa personel saat menjalankan operasi SAR, seperti Tengku Rahmatsyah Putra dan Dodi Prananta yang meninggal saat pencarian korban hanyut di Sumatera Utara, serta empat personel lainnya yang tewas akibat kecelakaan kapal saat bertugas di Jambi dan Ternate belum lama ini.
Rentetan peristiwa itu membuat Syafii harus memastikan bahwa setiap operasi pencarian dan pertolongan berjalan dengan lebih efektif dan efisien. Namun lagi-lagi, tantangan besar menanti. Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan anggaran yang berdampak pada pengadaan peralatan utama.
Rencana pembelian perangkat baru seperti drone pencari korban, radar jarak jauh, dan remotely operated vehicle (ROV) bawah laut yang seharusnya mempercepat proses pencarian, harus ditunda lagi tahun ini. Padahal, dalam dunia penyelamatan, teknologi dapat menjadi perbedaan antara hidup dan matinya individu.
Selain itu, jumlah personel yang ada masih jauh dari ideal. Dengan hanya sekitar 4.000 personel tetap di 44 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh Indonesia, tugas pencarian dan pertolongan acapkali harus bergantung pada lebih dari 23.000 relawan SAR seperti para mahasiswa/kelompok pencinta alam, termasuk potensi SAR dari TNI, Polri, BNPB, BPBD, Palang Merah Indonesia (PMI), hingga Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kementerian Sosial.
Syafii bertekad tegas mendorong transformasi dengan berbagai langkah strategis.
Dalam pidato perdananya sebagai Kepala Basarnas di Kantor Basarnas Pusat Jalan Angkasa itu, hal pertama yang ia tekankan adalah merestorasi manajemen korps baju oranye secara menyeluruh, beriringan dengan peningkatan kapasitas melalui pelatihan - sertifikasi bagi personel dan relawan, agar setiap operasi SAR dilakukan sesuai standar keselamatan tertinggi.
Syafii juga menyebut, ia akan memperkuat kolaborasi dengan lembaga SAR internasional dan memperkokoh hubungan bilateral dengan negara sahabat dalam bidang SAR demi kepentingan domestik maupun eksistensi Indonesia dalam misi kemanusiaan skala global. Poin ini sudah secara aktif dirintis Basarnas dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak berdiri pada 28 Februari 1972, Basarnas telah mengukir sejarah panjang dalam dunia pencarian dan pertolongan, seperti operasi besar pencarian pesawat Twin Otter di Sulawesi hingga Boeing 727-PANAM di Bali, jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 di kawasan Kepulauan Seribu, hingga misi pencarian korban gempa bumi di Turki 2023.
Lembaga ini pun bersinar di kancah internasional, terbukti dengan meraih predikat medium level melalui standar International Search and Rescue Advisory Group (INASARAG) 2019. Prestasi itu kian memperkokoh peran Basarnas sejak pertama kali disahkan keanggotaannya dalam National Association of SAR (NASAR) Amerika Serikat pada 1975.
Pengakuan internasional itu seiring dengan semakin ketatnya standar operasional personel Basarnas. Setiap kantor SAR di seluruh Indonesia harus merespons laporan kejadian dalam waktu maksimal 25 menit. Waktu tempuh menuju lokasi insiden dihitung secara detail agar pencarian dapat dilakukan dalam golden time, periode kritis 3x24 jam setelah kejadian yang menentukan peluang korban untuk bertahan hidup.
Bagi Syafii, Basarnas juga menyangkut tentang ketahanan manusia beradaptasi dengan alam, sebagaimana semboyan mereka AVIGNAM JAGAT SAMAGRAM (Semoga selamatlah alam semesta). Oleh karena itu peran edukasi SAR kepada masyarakat juga akan lebih ditingkatkan mulai dari mendirikan sekolah tinggi SAR hingga sosialisasi secara kolaboratif dengan para mitra strategis Basarnas, termasuk kalangan jurnalis.
Pada era keterbukaan informasi saat ini, publik tentu dapat selalu mengawasi dan menanti segenap komitmen tersebut terwujudkan. Semua ini tentang bagaimana Basarnas menjaga asa setiap anak dan istri yang menunggu ayahnya pulang melaut berhadapan dengan ombak ganas, juga tentang seorang ibu yang berdoa agar anaknya yang hilang dapat ditemukan, meskipun hanya dalam bentuk kepingan harapan terakhir.
Maka, di bawah komando sang "Guru Penerbang", Basarnas yang pada 28 Februari ini merayakan ulang tahunnya ke-53 harus lebih bersiap menghadapi masa depan dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya.
Baca juga: Tim SAR temukan 15 korban meninggal akibat tragedi Pelalawan pada Sabtu
Baca juga: Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii jadi Kepala Basarnas