Bogor, (Antaranews Bogor) - Budayawan yang juga dalang Sujiwo Tejo memeriahkan "Indonesian Ecology Expo" 2014 yang diselenggarakan BEM Fakultas Ekologi Manusia IPB, di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu.
] Sujiwo tampil sebagai pembicara dalam sesi kedua taklshow bertemakan "Mengenal Lebih Dekat Kearifan Lokal Masyarakat Kampung Kuta dalam Menjaga Lingkungan".
Dalam pemaparannya, Sujiwo mengatakan kearifan lokal sangat penting sebagai penyeimbang ketika teknologi tidak lagi memberikan rasa kepuasan, atau kepada seseorang yang rindu akan keindahan alam yang belum tercampur globalisasi.
Menurutnya, klening atau pamali yang dikenal oleh masyarakat adalah salah satu bentuk kearifan lokal para leluhur menstransformasi ilmu pengetahuannya yang belum tersentuh oleh kamajuan teknologi.
Sebagai contoh ketika orang mengartikan kokok ayam jantan siang hari bahwa ada petanda akan datang bencana alam longsor hendaknya tidak hanya dijadikan sebagai klening atau pamali.
"Kenapa tidak ada yang mentrasnformasi ilmu dari kokok ayam yang mungkin memiliki kemampuan membaca pendata alam, menjadi alat dengan kemampuan yang sama untuk mendeteksi bencana alam," kata Sujiwo.
Sujiwo menyayangkan, mahasiswa IPB tidak membuat alat yang dimodifikasi dari pamali atau klening-klening yang disampaikan oleh para orang tua dulunya. Ada banyak klening yang terdapat di sejumlah daerah di Indonesia dan merupakan kearifan lokal.
Sujiwo juga menganalogikan bagaimana budaya luar masuk mempengaruhi kearifan lokal sebagai bentuk impor pangan di tanah air. Sebanyak apapun impor yang masuk ke dalam negeri tetap barang yang impor di Indonesia posisinya tetap di bawah, sementara jenis barang yang diimpor tersebut sudah berkembang pesat.
"Jadi mulai dari apa yang kita miliki agar bisa menghasilkan sesuatu, kenapa harus cari yang lain. Semua kecendrungan lokal adalah klening (pamali-red)," kata Sujiwo.
Sujiwo mengatakan, mahasiswa jangan terpatok pada teori semata sehingga dalam melakukan praktek terpaku pada teori tanpa membaca bahasa alam yang ditemui saat praktek di lapangan.
Ia mengartikan bahwa setiap orang jangan terlalu cepat mengartikan segala sesuatu sebagai klening atau pamali. Karena pamali adala cara nenek moyang kita mendistribusikan ilmu pengetahuannya.
"Jangan cepat-cepat percaya pada teks sejarah yang ada, karena penulis sejarah itu menulis ada kepentingan yang disampaikannya sehingga faktanya ada yang dimunculkan dan ada sebagian lain faktanya dihilangkan," kata Sujiwo.
Ia mencontohkan, dirinya tidak menyakini kalau Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Ia menyebutkan dalam buku yang ditulis oleh Komunitas Bambu dari Depok yang menyebutkan sebenarnya Indonesia dijajah Belanda selama 40 tahun, sedangkan 310 tahun ada usaha Belanda untuk menjajah Indonesia.
Menurut Sujiwo, orang Indonesia murah senyum sehingga apakah benar Belanda menjajah selama itu atau bangsa Indonesia yang menerima penjajahan, karena biasanya orang yang tidak mudah senyum sulit untuk dijajah.
"Kita bangga ketika pendiri Facebook mengunjungi Indonesia dengan celana pendek, seolah-olah hal yang perlu diapresiasi, bangga saat Richard Gere datang ke Borobudur. Harusnya Richard Gere yang bangga karena sudah pernah ke Borobodur," ujar Sujiwo.
Kemeriahan INDEX 2014 semakin terasa saat Sujiwo Tejo tampil bermain gitar, melantunkan sebuah lagu ciptannya, maupun lagu-lagu yang disukainya. Secara madley ia membacakan puisi sekaligus mengenalkan Lagu Asmaul Husna yang ia buat dengan versinya sendiri yakni seperti gending Jawa.
Dekan Fakultas Ekologi Manusia DR Arif Satria mengatakan kearifan lokal harus berkolaborasi dengan ilmu pengetahuan, sehingga ilmu yang ada dalam kearifan lokal dapat diterjemahkan ke dalam ilmu pengetahuan.
"Yang terpenting bagaimana antara pengetahuan lokal di masayrakat dengan ilmu pengathuan harus berkolaborasi. Saatnya kita harus anyak meneliti apa-apa yang sudah ditemukan oleh masyarakat. Dengan adanya ilmu pengetahuan justru semakin memperkuat bahwa pengetahuan lokal di masyarakat menjadi dasar memperkuat riset di perguruan tinggi. Jadi ilmu pengetahuan berbasis kearifan lokal perlu dipelajari betul oleh peneliti, dari situ lahir konsep baru, bahwa ilmu pengetahuan dan kearifan lokal bukan saling meniadakan tetapi berkolaborasi," kata Arif.
Humas INDEX 2014 Umu Rohmah menjelaskan, kearifan lokal kini menjadi topik yang menarik dibicarakan di tengah semakin menipisnya sumber daya alam dan peliknya upaya pemberdayaan masyarakat.
"Kearifan turut menjadi elemen penentu keberhasilan pembangunan sumber daya masyarakat dan pengelolaan sumber daya alam," katanya.
Umu Rohmah menambahkan beberapa rangkaian kegiatan selama INDEX 2014 di antaranya lomba esai, fotografi, film dokumenter, dan Eco Design In Action (Ecodiction).
Pada Ecodiction yang dipusatkan di Gedung Graha Widya Wisuda (GWW) Kampus IPB Dramaga juga akan dilakukan peragaan busana. Peragaan busana itu unik dan berbeda dari kegiataan sejenis umumnya karena bahan-bahan yang digunakan adalah bahan-bahan sisa dan daur ulang.
Dalam acara itu model akan mengenakan pakaian dan aksesoris dari bahan-bahan daur ulang dan bahan-bahan sisa.
Sujiwo Tejo meriahkan index 2014 Fema IPB
Minggu, 2 November 2014 20:42 WIB
Sujiwo Tejo (Foto Antara/ Laily Rahmawati)
