Cibinong, (Antaranews Bogor) - Sejumlah petani di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menunda menanam padi untuk mengantisipasi musim kemarau panjang atau El Nino yang kini melanda wilayah Indonesia.

"Sekitar 5.000 hektare lahan pertanian yang dihentikan penanamannya," kata Kepala Bidang Penyuluh Petani Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kelautan (BKP5K) Kabupaten Bogor Aan Surya di Bogor, Rabu.

Selama musim kemarau ini, kata Aan Surya, terjadi kekeringan di sejumlah wilayah sentra pertanian di Kabupaten Bogor.

Untuk mengantisipasinya, pihaknya menganjurkan agar petani tidak menanam padi selama kemarau ini, kemudian menggantinya dengan tanaman yang membutuhkan air sedikit.

"Beberapa petani sudah ada yang mengganti menanam padi menjadi kacang hijau, kacang tanah, dan palawija. Sayur-mayur juga diprioritaskan di area yang mudah jangkauan airnya," kata Aan.

Berdasarkan laporan kekeringan di sejumlah kawasan pertanian, Kabupaten Bogor, kata dia, terjadi di Cariu, Tanjung Sari, Jonggol, Ciseeng, serta di wilayah yang sumber airnya terbatas.

Menurut Aan, kekeringan terjadi karena adanya fenomena El Nino yang menyebabkan kemarau menjadi lebih panjang dari biasanya sehingga musim hujan terlambat atau mundur dari jadwal biasanya.

Ia mengatakn bahwa kekeringan kawasan pertanian sudah terjadi selama sebulan yang lalu. Saat datang ke wilayah Cariu petani mengeluhkan hujan yang tidak turun menyebabkan padi gagal panen.

Beberapa daerah yang mengalami kekeringan dan menunda menanam padi, seperti di Jonggol terdapat sekitar 2.800 hektare lahan pertanian, di antaranya 400 hektare ditanami sayuran dan palawija; seluas 200 hektare yang ditanami padi; dan sekitar 2.200 hektare tidak ditanami.

Begitu juga di Cariu terdapat 2.000 hektare lahan pertanian, di antaranya 400 hektare ditanami sayur dan palawija dan sisanya tidak ditanami. Kemudian, di daerah Tanjung Sari terdapat 1.000 hektare, sekitar 50 hektare di antaranya ditanami sayuran dan sisanya tidak ditanami.

"Kalau dihitung secara kasar, ada 2.000 hektare di Cariu, 2.000 hektare di Jonggol, dan 1.000 hektare di Tanjung Sari totalnya ada 5.000 hektare lahan pertanian yang tidak ditanami padi," kata Aan.

Dengan berhentinya petani menanam padi untuk menghindari gagal panen akibat kemarau panjang, kata dia, pasokan beras di Kabupaten Bogor akan mengalami defisit.

Namun, lanjut Aan, hal tersebut tidak akan memengaruhi ketersediaan pasokan beras untuk warga Kabupaten Bogor karena 67 persen pasokan beras disuplai dari dalam Kabupaten Bogor sisanya dari luar seperti Kerawang dan pasar-pasar induk yang ada terdekat.

"Kebutuhan beras di Kabupaten Bogor 67 persen dipasok dari petani lokal, sisanya dari luar. Sampai saat ini pasokan masih tercukupi, kalaupun defisit produksi padi, Kabupaten Bogor dikelilingi sentra-sentra padi jadi bisa kami suplai dari luar," kata Aan.

Kesulitan air akibat kekeringan dampak dari El Nino dirasakan oleh petani Jambu Kristal di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor.

Ketua Kelompok Tani Subur Makmur, Badri mengaku kesulitan mendapat air, apalagi dirinya sekarang ini tidak lagi menampung air hujan.

"Biasanya mengharapkan air hujan, tetapi sudah tiga minggu tidak turun hujan. Kami harus mengambil air dari Setu Burung untuk menyiram 1.600 meter persegi," kata Badri.

Pewarta: Laily Rahmawati

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2014