Institut Pertanian Bogor (IPB) University mengungkap potensi besar rumput laut jenis Ulva sp atau selada laut salah satu yang paling sesuai untuk dikembangkan sebagai bahan baku alternatif pakan ikan hasil akuakultur atau budidaya perairan di Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor. 

"Ulva atau selada laut dapat ditemukan secara alami di perairan Indonesia wilayah perairan dangkal di seluruh Indonesia, terutama di daerah pantai Sulawesi, Lombok, Banda, Solor, Sumba, Jawa, dan Lampung Selatan," ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Profesor Dedi Jusadi di Kota Bogor, Senin.

Profesor Dedi menerangkan hasil penelitiannya dan para peneliti lain menunjukkan bahwa rumput laut ini memiliki kandungan protein yang bisa direkayasa melalui konsentrasi nutrien air, sehingga dapat mencapai 44 persen. 

Komposisi asam amino esensial pada Ulva relatif mirip dengan tepung bungkil kedelai (soybean meal) yang merupakan bahan baku sumber protein nabati utama dalam pakan akuakultur. 

Ulva juga memiliki tingkat kecernaan yang relatif baik untuk berbagai organisme akuakultur seperti ikan dan udang. 

Selain itu, Ulva juga memiliki salah satu senyawa polisakarida unik seperti ulvan, dan polisakarida lain yang dapat digunakan sebagai bahan baku bioplastik. 

Dari aspek produksi, kata dia, Ulva memiliki laju pertumbuhan yang cepat dengan kisaran 18-55 persen per hari, lebih tinggi dari rumput laut lain yang sudah umum dibudidaya di Indonesia. 

Profesor Dedie mengemukakan Indonesia sebagai produsen akuakultur kedua terbesar di dunia diperkirakan akan menghadapi tantangan berupa kenaikan harga pakan akibat dari cukup tinggi angka impor bahan baku, terutama sumber protein. 

Sementara itu peningkatan jumlah penduduk, intensifikasi aktivitas manusia dan penggunaan lahan yang menjadi penyebab utama peningkatan polusi dan pemanasan global berdampak pada ketidakpastian suplai bahan baku pakan, peningkatan harga dan kompetisi dengan penggunaan lain. 

Di sisi lain, permintaan konsumen akan ikan dengan kualitas tinggi, baik dari aspek nutrisi, rasa, tekstur, dan aroma menjadi tuntutan yang harus bisa dipenuhi oleh produsen akuakultur. 

Menurut dia, Ulva juga memiliki kapasitas yang tinggi dalam penyerapan karbon (carbon capture), nitrogen dan fosfat, sehingga memiliki potensi yang besar dalam mendukung bioremediasi lingkungan perairan dan mitigasi efek gas rumah kaca.

Dengan demikian, Ulva berpotensi untuk dibudidayakan di tambak ikan atau udang intensif, baik di air payau maupun air laut, serta dilakukan secara monokultur atau untuk dibudidayakan dalam sistem akuakultur multitrofik terpadu (IMTA).

"Peningkatan mutu produk akuakultur, terutama pada produk ikan ekspor diperlukan untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global," kata Dedi. 

 

Pewarta: Linna Susanti

Editor : Budi Setiawanto


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2023