Bogor (Antaranews Bogor) - Sekitar 20 kepala keluarga dari 11 rumah yang tinggal bantaran Sungai Ciliwung RT 5/RW 2 Kampung Sukasari, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor memilih mengungsi karena khawatir longsor akan terjadi di rumahnya.

"Kami was-was setiap kali hujan, jadi kami memilih mengungsi, takut kalau-kalau kejadian ambruk," kata salah seorang warga setempat Sari Banon, di Bogor, Selasa.

Sekitar 20 rumah tersebut berada persis di pinggir Sungai Ciliwung, beberapa rumah sudah ada yang ambruk terbawa longsoran akibat naiknya arus sungai.

Posisi rumah warga tersebut terlihat jelas dari Jalan Pajajaran dekat jembatan Bale Binarum. Bagian belakang rumah warga tersebut terlihat bergantung di tebingan yang siap ambruk kapan waktu.

Sari Banon mengatakan dirinya ikut mengungsi karena merasa khawatir setiap air Sungai Ciliwung naik, menimbulkan getaran di rumahnya karena tebingan di pinggiran rumah sudah terkikis.

Ia mengatakan warga sudah lama sangat mengharapkan agar pemerintah Kota Bogor segera membangun turap untuk membendung gesekan arus Sungai Ciliwung ke pemukiman warga. Namun hingga kini rencana tersebut belum direalisasikan.

Menurutnya, dulu posisi rumah warga sangat jauh dari tebingan. Namun seiring berjalannya waktu air Sungai Ciliwung terus mengikis tebingan sehingga menyebabkan longsoron.

Sedikit demi sedikit tebingan dibelakang rumah warga terkikis, bahkan salah satu rumah warga bernama buka Ocah bagian dapurnya sudah pernah ambruk dan terbawa arus sungai.

Warga masih memilih mempertahankan tempat tinggalnya karena telah tinggal di lokasi tersebut sejak lahir.

Menurut Ocah sudah lima tahun ini warga hidup dengan kekhawatiran, terlebih lagi retakan-retakan sudah terlihat di sekitar pemukiman warga.

"Kami heran kenapa dibagian seberang sudah dibangun turap, tapi kenapa di daerah kami belum juga dibangun turap," ujarnya.

Warga juga sudah berupaya mencegah tergerusnya tanah tebingan dengan memasang seng di bagian belakang rumahnya untuk mengurangi debit hujan menyentuh tanah tebing. Namun upaya tersebut belum maksimal, karena tanah tebingan setinggi kurang lebih 17 meter dari pinggir Sungai Ciliwung ikut tergerus saat debit sungai meningkat.

Ocah kini hanya bisa pasrah dan memilih mengungsi ke rumah sanak saudaranya. Seluruh barang dan benda berharganya diungsikan. Sesekali ia pulang ke rumah untuk sekedar mengecek kondisi rumahnya.

Beberapa warga ada yang sudah mengungsi sejak sebulan lalu, ada juga yang baru mengungsi sejak hujan terus mengguyur wilayah Kota Bogor. 

Pewarta: Laily Rahmawati
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026