Garut (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Jawa Barat siap mengaktifkan tim reaksi cepat untuk penanganan dampak kemarau, seperti kebakaran lahan dan hutan, lahan kekeringan, dan memasok kebutuhan air bersih bagi masyarakat.
"Kita ada tim reaksi cepat di beberapa dinas, kita akan aktifkan kembali, dan kita nanti akan ada apel kesiapsiagaan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut Aah Anwar Saefuloh di Garut, Sabtu.
Ia mengatakan setelah masa siaga darurat bencana hidrometeorologi selesai pada 30 April 2026, selanjutnya siap siaga menghadapi potensi bencana kekeringan dampak musim kemarau.
Namun, saat ini awal Mei masih seringkali turun hujan sehingga belum ada laporan dari masyarakat terkait dampak musim kemarau.
Baca juga: Pemkab Cianjur perpanjang status siaga darurat bencana hingga akhir 2026
Meski belum ada laporan, pihaknya tetap melakukan pemantauan dan memetakan daerah yang berdasarkan kejadian kemarau sebelumnya lebih awal dilanda kekeringan.
"Semuanya (antar-dinas) mengingatkan, dalam koordinasi kita (BPBD), dan itu (tim reaksi cepat) bisa kita gerakkan pada saat terjadi masalah," katanya.
Ia menyampaikan jajarannya tidak hanya mengatasi daerah yang dilanda kekeringan, tetapi juga memantau lahan dan hutan yang seringkali terjadi kebakaran saat musim kemarau.
BPBD Garut berkolaborasi dengan instansi lainnya, terutama lembaga yang berwenang mengelola kehutanan, untuk melakukan antisipasi dan penanganan kebakaran lahan hutan.
"Penanganan kebakaran hutan dan lahan, kita koordinasi dengan unsur SKPD (Satuan Kerja Perangkat Derah), dan instansi vertikal, termasuk instansi BPBD Provinsi," katanya.
Baca juga: BPBD Cianjur siagakan 1.000 relawan di setiap desa dan kecamatan hadapi musim kemarau
Terkait peralatan untuk penanganan dampak kemarau, kata dia, di antaranya menyiapkan tangki air untuk memasok air bersih dan pompa.
Untuk penanganan kebakaran lahan dan hutan, kata dia, juga sudah disiapkan, meskipun peralatan yang ada masih terbatas untuk mampu menjangkau lokasi kebakaran yang jaraknya jauh.
"Jadi, peralatan itu yang memang agak susah misal terjadi kebakaran tengah hutan sana di atas gunung. Kita juga antisipasi ke warga untuk mencegah kebakaran," katanya.
Pewarta: Feri PurnamaUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026