Karawang (ANTARA) - Bupati Karawang Aep Syaepuloh mengatakan kehadiran Mahkota Binokasih dalam rangkaian Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda menjadi pengingat pentingnya hubungan yang dilandasi kasih sayang antara pemimpin dan masyarakat.
“Kehadiran Mahkota Binokasih di sini adalah pengingat bahwa pemimpin dan rakyatnya harus diikat oleh rasa kasih. Semoga ini menjadi awal dari Karawang yang lebih unggul dan makmur,” kata Aep di Karawang, Sabtu malam.
Ia menyampaikan pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga harus dibangun di atas nilai kasih sayang, kebersamaan, dan persatuan.
Menurut dia, bagi masyarakat Sunda, Mahkota Binokasih bukan sekadar benda pusaka, melainkan simbol legitimasi, kebijaksanaan, dan pengingat kejayaan Tatar Sunda pada masa lalu.
Baca juga: Ribuan warga padati jalan saksikan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Karawang
Baca juga: Bupati Karawang sambut kedatangan Mahkota Binokasih
Mahkota Binokasih dikenal memiliki nama lengkap Binokasih Sanghyang Pake. Binokasih berarti kasih sayang, sedangkan Sanghyang Pake bermakna digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, nama tersebut mengandung makna bahwa nilai kasih sayang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mahkota tersebut juga memiliki tiga susunan yang merepresentasikan konsep Sunda Tritangtu, yakni silih asah, silih asih, dan silih asuh yang bermakna saling berbagi ilmu, saling menyayangi, dan saling membimbing.
Baca juga: Kirab budaya Milangkala Tatar Sunda di Bogor
Selain itu, ornamen bunga wijaya kusuma dan burung julang pada Mahkota Binokasih menggambarkan nilai kesetiaan, ketulusan, dan kekuatan tekad.
Dalam Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Karawang, Mahkota Binokasih turut dihadirkan di atas panggung utama sebagai bagian dari simbol budaya Sunda.
Aep menilai kehadiran Mahkota Binokasih membawa pesan bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga nilai dan warisan budaya leluhur.
Pewarta: M.Ali KhumainiUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.