Jakarta (ANTARA) - Perubahan gaya hidup sehat di masyarakat mulai mendorong peningkatan penggunaan produk herbal, terutama di kalangan komunitas olahraga.

Pelaku industri herbal sekaligus owner Kutus Kutus, Fazli Hasniel Sugiharto yang akrab disapa Arniel, dalam keterangannya, Selasa menilai bahwa komunitas memiliki peran penting dalam mendorong perubahan tersebut.

“Komunitas menjadi salah satu faktor percepatan adopsi. Ketika penggunaan herbal menjadi bagian dari aktivitas bersama, pola tersebut berkembang lebih cepat dan konsisten,” ujar Arniel.

Fenomena ini mencerminkan pergeseran pola konsumsi dari yang sebelumnya bersifat reaktif menjadi lebih preventif dan terintegrasi dalam aktivitas harian.

Dalam beberapa waktu terakhir, penggunaan produk herbal semakin terlihat dalam berbagai aktivitas komunitas olahraga di sejumlah daerah termasuk di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta.

Praktik ini tidak hanya dilakukan saat kondisi tertentu, tetapi mulai menjadi bagian dari rutinitas sebelum dan setelah aktivitas fisik.

Ia menambahkan, perkembangan ini menunjukkan adanya perubahan pola perilaku konsumen dalam menjaga kesehatan. Herbal tidak lagi diposisikan sebagai alternatif, tetapi mulai masuk dalam kebiasaan yang berulang, seiring meningkatnya kesadaran terhadap pendekatan kesehatan yang lebih holistik.

Fenomena ini juga terlihat dalam sejumlah aktivitas komunitas lari. Dalam salah satu kegiatan di kawasan GBK atau event lari di Bali, beberapa atlet memanfaatkan produk herbal setelah berolahraga sebagai bagian dari pemulihan otot. Mereka sekaligus memberikan testimoni kehangatan otot setelah balur.

Selain itu, aktivitas berbasis komunitas seperti tantangan lari berbasis aplikasi juga mulai mengintegrasikan produk herbal sebagai bagian dari pengalaman peserta.

Menurut Arniel, tren ini juga berdampak pada perubahan struktur permintaan di pasar. Konsumen tidak hanya mencari produk saat dibutuhkan, tetapi mulai menggunakannya sebagai bagian dari rutinitas menjaga kondisi tubuh.

Dalam konteks ini, sejumlah produk herbal berbasis tradisi mulai beradaptasi dengan kebutuhan tersebut. Produk seperti Kutus Kutus, misalnya, berkembang dengan menekankan konsistensi penggunaan sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Selain itu, fenomena ini tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi mulai terlihat di berbagai kota, menunjukkan adanya pola yang berkembang secara organik di tingkat masyarakat.

Arniel menambahkan bahwa perubahan ini menjadi indikator penting bagi perkembangan industri herbal nasional.

“Ini menunjukkan bahwa herbal mulai masuk ke pola konsumsi rutin masyarakat. Bagi industri, ini menjadi sinyal bahwa pasar bergerak ke arah yang lebih matang,” tambahnya.

Ke depan, tren ini dinilai berpotensi memperkuat posisi industri herbal Indonesia, seiring meningkatnya integrasi produk herbal dalam gaya hidup sehat masyarakat. Dengan dukungan standar dan edukasi yang lebih baik, perubahan ini dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan industri yang lebih berkelanjutan. 



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026