Sumedang (ANTARA) - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) menjelaskan penetapan Sumedang sebagai titik awal pelaksanaan Milangkala Tatar Sunda berlandaskan pada jejak sejarah yang masih dapat ditelusuri secara fisik.

Dedi dalam kunjungannya di Sumedang, Sabtu, mengatakan bahwa penetapan Sumedang tidak bersifat administratif semata, melainkan didasarkan pada fakta keberadaan Mahkota Binokasih yang ada di Sumedang.

“Penetapan berlandaskan karena Mahkota Binokasih itu di Sumedang. Jadi jejak sejarah yang ada dalam wujud itu di Sumedang. Kalau yang lain kan kebanyakan narasi, cerita. Saya ingin berangkat dari fakta, bukan mitologi,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih menjadi salah satu penanda penting dalam membaca kembali perjalanan sejarah Kerajaan Sunda yang masih meninggalkan jejak kebendaan.

Baca juga: Pemprov Jabar tetapkan Milangkala Tatar Sunda sebagai agenda rutin tahunan
Baca juga: "Binokasih" mahkota peninggalan Kerajaan Sunda Pajajaran keliling Jabar, tiba di Bogor 6 Mei 2026

Menurut KDM, dalam lintasan sejarahnya Kerajaan Sunda memiliki rangkaian perjalanan dari Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang Larang yang menjadi bagian dari kesinambungan peradaban di Tatar Sunda.

“Pakuan, Pajajaran dalam sejarahnya mengalami serangan, kemudian terjadi pembakaran terhadap kerajaan. Lalu ada proses penitipan pusaka ke Sumedang Larang,” katanya.

Ia menegaskan bahwa posisi Sumedang Larang dalam perjalanan sejarah tersebut membuat wilayah itu memiliki keterkaitan kuat dengan jejak Kerajaan Sunda yang masih dapat ditelusuri hingga kini.



Pewarta: Ilham Nugraha
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026