Jakarta (ANTARA) - Konflik di kawasan Timur Tengah menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi kemandirian bangsa di tengah ketidakpastian global.

Hal itu diungkapkan Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily dalam pembekalan pada pada Musyawarah Nasional (Munas) X Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan generasi muda memiliki peran krusial dalam menentukan masa depan bangsa, sehingga peningkatan kapasitas akademik dan keterampilan menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Ace mendorong generasi muda, khususnya di lingkungan LDII, untuk memperkuat kompetensi di bidang Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM) agar mampu mengelola kekayaan sumber daya alam Indonesia secara optimal.

“Karena itu saya ingin mendorong melalui lembaga pendidikan yang ada di LDII untuk memperkuat kemampuan akademik secara profesional dan berkeahlian skill STEM,” kata Ace. 

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya literasi digital yang kritis agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi mampu berpikir analitis dan mendalam.

Dalam paparannya, Ace menyinggung kondisi geopolitik global yang penuh ketidakpastian, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada stabilitas ekonomi dunia. Menurutnya, situasi tersebut harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan ekonomi.

Ketua Umum DPP LDII Chriswanto Santoso menegaskan bahwa penguatan SDM dan ketahanan nasional sejalan dengan prioritas utama organisasi, yakni kebangsaan.

“Program prioritas pertama LDII adalah kebangsaan. Dari situ, program-program lain akan lebih mudah dijalankan untuk kemajuan Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam Said Aqil Siradj menekankan pentingnya dakwah berbasis tsaqafah atau kebudayaan dan pengetahuan, sebagai pendekatan untuk membangun kualitas umat sekaligus menjaga stabilitas sosial.
 

Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam Said Aqil Siradj dalam pembekalan pada pada Musyawarah Nasional (Munas) X Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (ANTARA/HO-LINES)


Ia mengingatkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan pendekatan bijak (bil hikmah) agar Indonesia tidak terjebak konflik seperti yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

“Alhamdulillah Indonesia relatif stabil. Tidak seperti di Timur Tengah yang mudah terjadi konflik. Di sini, perbedaan antarormas tidak sampai pada perbedaan prinsip,” katanya.

Menurutnya, perbedaan di Indonesia merupakan hal yang wajar selama tetap berada dalam bingkai persatuan, sehingga organisasi keagamaan memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni sosial.

Ketua DPP LDII Singgih Tri Sulistiyono menambahkan bahwa penguatan tsaqafah sejalan dengan program LDII yang berfokus pada pendidikan, pembinaan karakter, serta peningkatan kualitas SDM.

Ia menilai, di era digital saat ini generasi muda tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan, tetapi juga empati sosial, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menghadapi perubahan.

“Kalau kita tertinggal dalam teknologi, tentu kita akan kalah. Karena itu, penguatan pendidikan, ekonomi, dan teknologi menjadi bagian penting dalam program LDII,” ujarnya.
 



Pewarta: M Fikri Setiawan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026