Gorontalo (ANTARA) - Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menggelar tradisi Tumbilotohe sebagai upaya menjaga kelestarian budaya lokal yang telah dipertahankan mahasiswa selama dua dekade.

Dekan FT UNG Sardi Salim di Gorontalo, Selasa, mengatakan konsistensi penyelenggaraan tradisi malam pasang lampu ini, bentuk dedikasi mahasiswa sejak pertama kali dilaksanakan di kampus lama pada 2006.

Ia mengapresiasi seluruh mahasiswa yang tetap menjaga autentisitas perayaan dengan menggunakan lampu minyak tanah, meskipun saat ini dihadapkan pada tantangan tingginya harga bahan bakar dan sulitnya pasokan di pasar.

Baca juga: Mahasiswa Fakultas Teknik UNG siapkan 2.025 lampu botol semarakkan tradisi Tumbilotohe
Baca juga: UNG luncurkan program studi pendidikan dokter spesialis dan subspesialis

Ia menilai semangat mempertahankan nilai historis tersebut pencapaian luar biasa di tengah gempuran modernisasi alat penerangan listrik.

"Kami dari pimpinan fakultas tentunya menyambut dengan antusias, memberi apresiasi terhadap mahasiswa Fakultas Teknik yang terus mempertahankan tradisi budaya Gorontalo ini, Tumbilotohe. Walaupun harga BBM cukup tinggi dan minyak tanah agak sulit dicari, namun adik-adik mahasiswa terus berupaya mempertahankan tradisi," kata dia.

Ia mengapresiasi idealisme mahasiswa yang enggan mengganti sumber cahaya tradisional dengan lampu listrik demi menjaga marwah budaya asli Gorontalo.

Penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar utama Tumbilotohe merupakan identitas yang tidak bisa dipisahkan dari citra kebanggaan masyarakat Gorontalo, khususnya di Kabupaten Bone Bolango.

"Jadi mereka juga tidak mau menggantinya dengan penerangan listrik. Tetap mempertahankan tradisi yang memang dari dahulu menjadi penerang di Gorontalo, yang sumbernya berasal dari minyak tanah. Nah, ini satu hal yang sangat baik tentunya kita apresiasi untuk bagaimana menjadi citra kebanggaan buat kita," katanya.

Baca juga: Universitas Negeri Gorontalo kukuhkan 700 lulusan terbaik dari berbagai bidang keilmuan

Sardi berharap, kegiatan yang dimediasi oleh mahasiswa ini dapat menjangkau perhatian lebih luas dari pemerintah daerah, terutama dinas terkait, seperti Dinas Pariwisata.

Kehadiran perwakilan DPRD Bone Bolango dalam seremoni tersebut diharapkan menjadi langkah awal sinergi yang lebih kuat antara akademisi dan pemangku kebijakan dalam mempromosikan pariwisata berbasis budaya.

Perayaan ini diharapkan terus mengalami peningkatan kualitas di masa mendatang tanpa menanggalkan nilai-nilai luhur.

"Insyaallah kegiatan ini bisa berlangsung dengan baik dan bisa menghasilkan satu terobosan tradisi yang mungkin lebih bagus lagi, yang akan kita pelihara secara berkesinambungan dari tahun ke tahun," katanya.



Pewarta: Susanti Sako
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026