Tokyo (ANTARA) - Kelompok Tujuh (G7) sepakat menjajaki kemungkinan mengawal kapal-kapal di Timur Tengah setelah kondisi keamanan memungkinkan di tengah konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran, demikian menurut keterangan Prancis selaku ketua G7 tahun ini.
Dalam pernyataan yang dirilis pa Rabu (11/3), setelah pertemuan daring antara para pemimpin negara anggota G7, Pemerintah Prancis menyatakan bahwa rencana pengawalan kapal itu bertujuan untuk memulihkan kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Sementara itu, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara, dalam sebuah konferensi pers di Tokyo, Kamis, menyatakan bahwa pengumuman tersebut merupakan keputusan Prancis sendiri sebagai ketua G7. Kihara enggan memberikan penjelasan lebih lanjut terkait hal itu.
Jepang kemungkinan akan menghadapi pilihan sulit mengenai apakah akan bergabung dalam rencana pengawalan kapal oleh pasukan negara-negara G7 itu.
Hal tersebut karena Jepang sudah lama menganut kebijakan yang berorientasi pada pertahanan eksklusif di bawah konstitusi menolak perang. Jepang hanya mengizinkan penggunaan terbatas sebagai hak bela diri kolektif.
"Menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah adalah hal yang sangat penting bagi Jepang dan kami akan terus bekerja sama erat dengan negara-negara terkait, termasuk anggota G7, serta melakukan segala upaya diplomatik yang diperlukan untuk meredakan situasi secepat mungkin," tambah Kihara selaku juru bicara utama Pemerintah Jepang.
Jepang mengimpor lebih dari 90 persen minyak dari Timur Tengah, sehingga negara itu sangat rentan terhadap kemungkinan penutupan Selat Hormuz yang telah memblokir transportasi minyak dan gas dari para pemasok di kawasan tersebut setelah AS dan Israel menyerang Iran pada akhir bulan lalu.
Sumber: Kyodo
Baca juga: Kapal kargo dihantam proyektil tak dikenal di Selat Hormuz pada Rabu dini hari
Baca juga: AS akan kawal kapal di Selat Hormuz,Iran: Kami tunggu
Pewarta: Kuntum Khaira RiswanEditor : Erwan Muhadam
COPYRIGHT © ANTARA 2026