Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyoroti pentingnya upaya pemulihan usaha dan ekonomi terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Saat ini, saya rasa yang menjadi utama adalah bagaimana bersama-sama kita bisa mengatasi situasi yang ada. Jadi, mungkin kalau melihat dari dampak ekonomi, satu, adalah pemulihan,” kata Shinta di Jakarta, Senin.
“Mungkin kalau dari segi membantu dari segi ekonominya, untuk keberlangsungan usahanya kembali, dan lain-lain, itu adalah next step yang dilakukan nanti teman-teman (Apindo) di daerah,” ujarnya menambahkan.
Lebih lanjut, Shinta mengatakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan perdagangan lokal merupakan sektor usaha yang paling terdampak dari bencana yang melanda tiga provinsi di Sumatera itu.
“Dari segi pelaku (usaha), terus terang kami banyak sekali menyoroti teman-teman UMKM di sana (terdampak paling berat) karena distribusi (terhambat), bahkan kurangnya air bersih, dan lain-lain, tentunya itu sangat berdampak Kepada banyak pelaku (usaha) juga,” kata dia lagi.
Mengenai kalkulasi kerugian dan dampak bencana ini terhadap pertumbuhan serta proyeksi ekonomi nasional, Shinta mengatakan pihaknya mengacu pada perhitungan sementara dari Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu.
Bank Sentral pada Kamis (18/12) menilai bencana banjir bandang yang dialami masyarakat di wilayah Sumatera akan turut berdampak pada kinerja perekonomian nasional, dengan menggerus sekitar 0,017 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025.
Hal itu diungkapkan berdasarkan hasil asesmen awal otoritas moneter yang mempertimbangkan matinya pergerakan ekonomi selama 32 hari dari tiga provinsi terdampak.
“Soal kalkulasi berapa besar dampak ekonomi, dari perspektif ekonomi sudah dibuat oleh pemerintah, ya, 0,017. Kami sendiri belum membuat berapa persentase dari pengaruh ini. Jelas tentunya berdampak, tapi sampai seberapa jauh nantinya ini bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan lain-lain, Saya rasa faktornya banyak,” ujar Shinta.
Saat ini, katanya lagi, Apindo bersama para pemangku kepentingan lebih fokus untuk membantu usaha-usaha yang terdampak agar mampu bangkit kembali.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat penambahan 19 jiwa korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga Sabtu (20/12). Penambahan kembali korban jiwa tersebut menjadikan total meninggal dunia mencapai 1.090 korban.
Baca juga: Dana 1 17 triliun diperlukan Agam perbaiki fasilitas pascabencana
Baca juga: Kemkomdigi: Pemerintah gotong royong dengan berbagai pihak pulihkan jaringan Sumatera
