Yogyakarta (ANTARA) - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut "wellness tourism" atau wisata kebugaran menjadi kekuatan baru pariwisata Indonesia yang didukung berbagai tradisi Nusantara.
"Indonesia ini kaya akan tradisi wellness, antara lain seperti di Jawa, Solo, dan juga di Bali. Kita punya produk-produk 'wellness' seperti lulur, jamu, dan spa, ada banyak sekali," ujar Menpar saat menghadiri penutupan Wonderful Indonesia Wellness (WIW) 2025 di Asram Edupark, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu malam.
Menurut Widiyanti, potensi wisata kebugaran turut didukung menguatnya preferensi perjalanan wisata yang berorientasi pada pemulihan diri atau "healing", terutama di kalangan generasi muda.
"Gen-Z dan milenial sekarang kalau bepergian ingin untuk 'healing', untuk 'wellness' karena keadaan dunia sekarang 'stressful'," kata Menpar.
Baca juga: Wisata kebugaran Jateng-DIY dipromosikan ke Singapura
Berbagai unsur budaya seperti gamelan dan tarian Jawa, kata dia, juga mulai banyak dipadukan dalam paket wisata kebugaran karena memiliki efek terapeutik bagi wisatawan.
"'Sound healing' kita dengan memainkan gamelan bisa menenangkan jiwa kita. Dan belajar menari Jawa juga sebenarnya therapeutic," ucapnya.
Merujuk laporan Global Wellness Institute (GWI), Widiyanti mengatakan Indonesia menempati peringkat pertama di Asia Tenggara untuk nilai ekonomi wellness dengan estimasi industri sekitar 56 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Selain itu, hasil studi Universitas Harvard menyebut masyarakat Indonesia menjadi bangsa paling sejahtera di dunia berdasarkan indikator fisik, psikologis, mental, kesehatan, dan hubungan sosial.
Baca juga: Strategi Selandia Baru dalam mengembangkan pariwisata
"Orang Indonesia nomor satu di atas Jepang dan Amerika Serikat. Dari situlah saya, kami di Kemenpar, berpikir bahwa wellness tourism itu adalah kekuatan kita," ujar dia.
WIW 2025 berlangsung sebulan penuh sejak 1 hingga 30 November, menyatukan Royal Surakarta Wellness Festival yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta serta Jogja Cultural Wellness Festival oleh BPPD Yogyakarta.
Menpar menyebut jumlah pengunjung dalam WIW 2025 telah mencapai sekitar 2.000-3.700 orang berdasarkan data yang ia terima.
Selain itu, lebih dari 750 pelaku wellness, 140 pekerja seni, serta sekitar 900 pekerja "event organizer" terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Baca juga: Menpar sebut WIW 2025 di Solo dan Yogyakarta sebagai perayaan tradisi kebugaran Indonesia
"Di Yogyakarta kami dapat laporan sekitar 77 UMKM, tapi total di dua kota hampir 100 UMKM yang terlibat," kata dia.
Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenpar Vinsensius Jemadu menyampaikan bahwa pelaksanaan WIW 2025 di Yogyakarta dan Solo telah mencatatkan transaksi sekitar Rp9 miliar dari penjualan tiket dan paket wisata.
Dari kegiatan tersebut, total perputaran ekonominya diperkirakan mencapai hampir Rp400 miliar.
"Artinya, kembali lagi kita melihat bahwa wellness ini adalah 'special interest' dan wajar kalau kita masukkan ini sebagai 'flagship' Kementerian Pariwisata," kata Vinsensius.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Daerah Istimewa Yogyakarta Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara menyebut Yogyakarta telah mengembangkan potensi wisata kebugaran itu sejak beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, budaya dan "slow living" menjadi dua kekuatan utama yang mendorong pengembangan wisata kebugaran di daerah ini.
Ia mencontohkan tradisi berjalan tanpa alas kaki ("grounding") atau dalam bahasa Jawa disebut "nyeker" sudah dilakukan masyarakat DIY sehari-hari.
"Kita sudah sehari-hari memang 'nyeker', hanya memang kita belum menggunakan atau kita tidak menggunakan itu sebagai produk pariwisata," kata dia.
