Depok (ANTARA) - Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Dr. Deni Hardiansyah menjadi peneliti pertama asal Indonesia yang meraih Gold Prize di Asian and Oceanian Young Investigator Award (AOYIA) 2025 karena menciptakan inovasi terapi kanker.
Deni meraih penghargaan berkat penelitian kolaboratifnya bersama Prof. Gerhard Glatting dari Medical Radiation Physics, Department of Nuclear Medicine, Ulm University, Jerman serta Prof. Michael Mix dari Department of Nuclear Medicine, Medical Center, Freiburg University, Jerman.
"Kami bangga atas prestasi Dr. Deni. Penghargaan ini menegaskan kualitas peneliti muda FMIPA UI di tingkat internasional dan menunjukkan peran aktif kami dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat luas, khususnya di bidang medis,” kata Dekan FMIPA UI Dede Djuhana di Kampus UI Depom, Rabu.
Menurut Dede, keberhasilan itu juga mencerminkan kualitas pendidikan dan riset FMIPA UI yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu, tetapi juga untuk menjawab tantangan nyata di masyarakat.
Dalam studi tersebut, Deni mengembangkan metode farmakokinetik berbasis populasi untuk perencanaan terapi kanker, yang memberikan tingkat akurasi lebih tinggi dibandingkan pendekatan konvensional.
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan di salah satu jurnal kedokteran nuklir terkemuka di Amerika Serikat.
“Metode lama hanya memodelkan data farmakokinetik per pasien, sehingga jumlah parameter terbatas dan akurasi rendah. Dengan pendekatan populasi, data dari banyak pasien dimodelkan sekaligus, sehingga jumlah parameter lebih banyak dan hasil lebih realistis,” kata Dr. Deni menjelaskan kelebihan metode farmakokinetik.
Pendekatan itu memungkinkan perencanaan terapi kanker menjadi lebih tepat, mengurangi jumlah kunjungan pasien ke rumah sakit, sekaligus menekan biaya dan paparan radiasi.
“Pasien yang sebelumnya harus bolak-balik tiga hingga lima kali, kini cukup satu kali pencitraan saja. Metode ini lebih efisien dan berpotensi mengubah praktik terapi kanker, terutama di negara berkembang,” kata Deni.
Penghargaan tersebut diberikan oleh Japanese Society of Nuclear Medicine (JSNM) kepada para peneliti muda berprestasi di bidang kedokteran nuklir. Penghargaan AOIYA diserahkan langsung di Kyoto International Exhibition Hall Miyako Messe pada Kamis (13/11). AOYIA merupakan penghargaan tahunan untuk peneliti muda terbaik dari kawasan Asia–Oseania.
Deni juga menjadi yang pertama dari kawasan Asia Tenggara ASEAN yang menembus prestasi tersebut, di mana sebelumnya peraih penghargaan AOIYA itu didominasi negara Korea dan India.
Dia juga berencana memperluas penerapan metode itu di klinik dan memperkuat kerja sama internasional.
Baca juga: Dosen UI terpilih sebagai president organisasi ahli jantung Asia Pacific
Baca juga: UI berikan dosen dan tenaga kependidikan insentif prestasi kinerja
