Makassar (ANTARA) - Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) mengembangkan hasil hutan bukan kayu melalui inovasi budidaya jamur tiram yang dilakukan di Kampung Rimba, kawasan Fakultas Kehutanan, Kampus Tamalanrea, Makassar.
Pembudidaya sekaligus Dosen Fakultan Kehutanan Unhas Dr Baharuddin MP di Makassar, Selasa, menjelaskan budidaya jamur tiram ini memanfaatkan limbah kayu yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.
“Kami memanfaatkan serbuk kayu sebagai bahan utama. Serbuk tersebut dimasukkan ke dalam baglog sebagai media tumbuh jamur. Kegiatan ini awalnya bertujuan sebagai bahan penelitian,” jelas Dr. Baharuddin.
Ia menjelaskan, ada enam mahasiswa yang terlibat dalam penelitian budidaya jamur tiram ini. Selain dari Unhas juga terdapat mahasiswa dari universitas lain.
Baca juga: Dua Prodi FKG Universitas Hasanuddin raih akreditasi internasional ASIIN
Baca juga: Empat alumni FKep Universitas Hasanuddin lolos program beasiswa ke Austria
Dr Baharuddin mengatakan, harga jual jamur tiram mencapai Rp25.000–Rp30.000 per kilogram, dengan peminat yang terus meningkat. Namun ia mengakui bahwa masih ada beberapa tantangan dalam proses produksi.
Tantangan utama yang dihadapi ialah keterbatasan jumlah baglog yang baru mencapai kurang dari 1.000 unit, sementara target produksi mencapai 5.000 baglog agar mampu memenuhi permintaan sekitar 10 kilogram per hari. Selain itu, pengaturan suhu dan kelembaban juga menjadi hal penting dalam proses budidaya.
“Kelembapan ruangan harus mencapai sekitar 85% dengan suhu antara 23–28°C. Kami menjaga kondisi ini dengan cara sederhana seperti menyiram lantai agar tetap lembab,” ujarnya.
Baca juga: Mentan pacu mahasiswa Universitas Hasanuddin kawal Indonesia jadi lumbung pangan dunia
Menurut dia, peminat jamur tiram cukup tinggi namun belum dapat dipenuhi seluruhnya. Saat ini, fokus pasar jamur tiram adalah sivitas akademika Unhas yang terbatas dan masyarakat sekitar kampus saja.
“Sebenarnya sudah banyak peminatnya, tapi kami masih khawatir tidak bisa memenuhi permintaan karena produksi masih kecil. Saat ini kami baru mampu menghasilkan sekitar 3–4 kilogram per hari,” tambahnya.
Proses pembuatan jamur tiram sendiri dimulai dari pemanfaatan serbuk gergaji kayu berwarna putih yang diolah, dicampur dengan kapur dan dedak, kemudian ditambahkan mikroba untuk mempercepat pelapukan. Setelah melalui proses fermentasi selama 3–7 hari, campuran dimasukkan ke dalam baglog dan disterilisasi sebelum diinokulasi dengan bibit jamur.
Baca juga: Pelayaran Unhas di Kepri pererat Melayu-Bugis
Menariknya, bibit jamur yang digunakan berasal dari hutan dan dikembangkan dalam media buatan yang menyerupai habitat aslinya. Beberapa pembeli bahkan sudah memanfaatkan jamur hasil produksi ini sebagai bahan baku makanan olahan seperti jamur krispi dan obat-obatan.
Ke depan, Dr. Baharuddin menyampaikan rencana inovasi berupa penggunaan teknologi penyemprotan otomatis yang dapat dikendalikan melalui perangkat gadget, guna meningkatkan efisiensi perawatan jamur.
