Depok (ANTARA) - Dokter Spesialis Bedah Plastik, Eka Hospital Depok dr. Narottama Tunjung Hariwangsa menjelaskan penyebab timbulnya keloid pada tubuh dan cara yang tepat untuk menanganinya.
"Bekas luka keloid muncul ketika tubuh memproduksi kolagen lebih banyak dari yang dibutuhkan tubuh untuk memulihkan luka," kata Narottama di Depok, Selasa.
Ia menjelaskan normalnya, saat terjadi luka, kolagen akan membantu menutup kembali permukaan kulit yang terbuka.
Namun, jika jumlahnya terlalu banyak, muncullah keloid. Hingga kini, tidak diketahui secara pasti mengapa keloid dapat terbentuk, tapi riwayat keluarga turut berkontribusi.’
"Keloid juga dapat muncul pada bekas luka yang terinfeksi, dan pada luka yang terdapat pada lokasi yang sering bergerak seperti lengan atas, punggung, dan dada," ujarnya.
Dikatakannya keloid dapat muncul dari bekas luka apa pun, seperti jerawat, luka bakar, gigitan serangga, cacar air, bekas tindikan, luka bekas operasi, bekas vaksin, luka gores ringan dan lainnya.
Keloid adalah salah satu bekas luka menonjol yang terkadang berukuran cukup besar. Walau menyerupai benjolan, seringnya keloid bukanlah sesuatu yang membahayakan.
Namun, beberapa orang mungkin menjadi tidak percaya diri, terutama ketika keloid muncul di area yang dapat terlihat oleh siapa pun.
Keloid adalah jenis bekas luka yang menonjol. Ukurannya bahkan bisa lebih besar daripada luka awal itu sendiri.
Pada awalnya, keloid mungkin berukuran kecil. Namun, seiring berjalannya waktu, bekas luka keloid ini bisa semakin membesar. Hal ini bisa memakan waktu bulanan atau tahunan.
Meski kesannya bekas luka ini “bertumbuh”, keloid sering kali tidak bersifat ganas. Namun, keloid juga jarang yang bisa hilang dengan sendirinya. Dokter dapat merekomendasikan pemberian obat atau pembedahan jika lokasi munculnya keloid mengganggu aktivitas sehari-hari.
Untuk mengenali keloid cukup sederhana. Keloid seringnya tumbuh di bekas luka. Artinya, jika sebelumnya tidak ada luka, tapi muncul bekas yang menonjol, kemungkinan itu bukanlah keloid.
Beberapa orang juga menyebutkan saat keloid bertumbuh, mereka merasakan sakit atau sensasi terbakar. Iritasi di sekitar batas keloid juga mungkin terjadi karena gesekan dengan pakaian.
Keloid bukanlah kondisi yang berbahaya. Namun, tetap ada beberapa dampak negatif atau komplikasi yang terjadi saat memiliki keloid, yaitu bekas luka yang menggelap karena paparan sinar matahari
Rasa sakit yang muncul terus akibat bekas luka keloid terus tumbuh dan membesar . Timbul luka berulang pada keloid sehingga terjadi infeksi dan dapat mengeluarkan nanah dan 0enurunan kepercayaan diri akibat bekas luka yang tampak.
Untuk engenali apakah bekas luka menonjol yang Anda miliki itu keloid atau bukan. Namun, dalam beberapa kasus, mungkin saja dokter akan meminta biopsi untuk memastikan sifat pertumbuhan jaringan kulit.
Penanganan keloid tidak selalu melibatkan pembedahan. Faktanya, pembedahan adalah opsi yang diambil jika metode pengobatan lainnya tidak mampu menghilangkan keloid.
Berikut ini adalah beberapa opsi pengobatan yang dapat diberikan untuk mengatasi keloid seperti Penggunaan obat-obatan, baik dalam bentuk salep atau injeksi.
Penggunaan laser, Krioterapi (menggunakan energi dingin untuk mematikan jaringan), Menggunakan pakaian ketat untuk memberikan tekanan pada keloid dan Radioterapi (menggunakan radiasi dosis rendah untuk menekan pertumbuhan keloid).
Operasi merupakan pilihan terapi jika keluhan yang berkaitan dengan keloid tidak kunjung mereda dengan pengobatan nonoperasi, dan dapat dilakukan pada keloid yang berukuran lebih besar.
Meskipun orang yang memiliki keloid cenderung punya “bakat” untuk memiliki keloid lagi di kemudian hari, dengan teknik pembedahan yang mutakhir dan tepat, keloid dapat diobati.
Untuk itu, perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui metode pengobatan apa yang paling tepat dengan mempertimbangkan segala risiko dan manfaatnya.
Dokter spesialis bedah plastik jelaskan penyebab timbul keloid dan cara penanganannya
Selasa, 30 September 2025 19:01 WIB
Dokter Spesialis Bedah Plastik, Eka Hospital Depok dr. Narottama Tunjung Hariwangsa menjelaskan tentang keloid dan penangannnya. ANTARA/ Feru Lantara
