Banjarmasin (ANTARA) - Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tengah membangun lintasan balap kerbau rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), sebagai salah satu destinasi wisata khas lokal.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dispar Kalsel, Mugeni, mengatakan, Pemkab Hulu Sungai Utara melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) berencana menggelar agenda Candi Agung Festival pada tahun 2026, dan salah satu kegiatannya utamanya adalah pacuan kerbau rawa.

“Objek wisata kerbau rawa merupakan salah satu destinasi unggulan Kalsel. Pembangunan fisik area balap sudah mulai tahun 2024. Sejumlah fasilitas, termasuk dermaga, toilet umum, gazebo, dan lintasan balap kerbau, serta tempat penonton tengah dikerjakan,” ujar Mugeni di Banjarmasin, Selasa.

Baca juga: Kalimantan Selatan promosi Geopark Meratus kepada 14 negara di Site Kalsel Park
Baca juga: Kalsel kembangkan wisata konservasi melalui Site of Kalsel Park

Selain sarana dan prasarana untuk keperluan balapan dan pengunjung, Daspar kalsel juga melakukan penanaman pohon-pohon peneduh guna meningkatkan kenyamanan bagi wisatawan.

Ia mengakui bahwa masih ada sejumlah fasilitas pendukung yang perlu dibangun pada anggaran mendatang agar kawasan wisata ini semakin representatif.

Mugeni menambahkan, pembangunan ini sejalan dengan konsep 3A dalam pengembangan pariwisata, yaitu Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas. Ia menekankan pentingnya pengembangan akses menuju lokasi agar fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara maksimal.

“Selain akses jalan darat yang cukup jauh dari Jalan Nasional (Jalan A. Yani) dan minimnya penunjuk arah, akses air dari Dermaga Danau Panggang ke Desa Bararawa juga harus diperhatikan. Perjalanan sekitar 30 menit menggunakan speedboat atau perahu perlu dipikirkan kenyamanannya, termasuk biaya transportasi bagi wisatawan,” jelasnya.

Baca juga: Pemprov Kalsel telah selesai pembangunan destinasi wisata bawah Jembatan Barito

Mugeni juga menegaskan bahwa pengembangan destinasi ini harus memperhatikan keberlangsungan hidup masyarakat lokal dan menjaga kelestarian lingkungan.

“Transportasi massal berbasis air yang mungkin dikembangkan tidak boleh mematikan usaha masyarakat, seperti pemilik speedboat dan kapal tradisional. Selain itu, habitat kerbau rawa dan ikan-ikan yang berkembang biak secara alami di rawa juga harus dijaga kelestariannya,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa semua aktivitas wisata di kawasan tersebut harus mengikuti peraturan perundang-undangan, baik dari sisi keselamatan di perairan maupun aturan yang berlaku di kawasan hutan.

Dengan pembangunan fasilitas dan perencanaan yang matang, diharapkan pacuan kerbau rawa dapat kembali menjadi daya tarik utama pariwisata Hulu Sungai Utara yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.



Pewarta: Imam Hanafi
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026