BAZ-Bogor-Beri-Bantuan-90-Guru-Ngaji-Bogor, 9/2 (Antara) - Sebanyak 90 guru ngaji di Kota Bogor, Jawa Barat, memperoleh bantuan dari Badan Amil Zakat setempat, atas kontribusinya dalam mengajar ngaji secara sukarela.
"Bantuan bagi guru ngaji ini merupakan program dari BAZ Kota Bogot, sebagai bentuk apresiasi terhadap mereka yang mengajarkan Al Quran secara sukarela," kata Divisi Pendayagunaan BAZ Kota Bogor Berlin H Purba di Bogor, Sabtu.
Berlin mengatakan bantuan dalam program "Guru Ngajiku" tersebut telah disalurkan beberapa hari lalu kepada 90 guru ngaji yang tersebar di Kota Bogor.
Dijelaskannya, para penerima bantuan adalah para guru ngaji yang memenuhi kriteria sukarela.
Kriteria sukarela menjadi kriteria utama bagi BAZ untuk menentukan penerima bantuan Guru Ngajiku.
"Selain itu, mereka belum pernah menerima bantuan dari lembaga lain," ujarnya.
Adapun jumlah bantuan yang diberikan, lanjut Berlin, yakni masing-masing guru ngaji mendapat bantuan uang tunai sebesar Rp400.000 per empat bulan.
Bantuan tersebut diserahkan BAZ Kota Bogor setiap empat bulan sekali. Dalam penyerahan tersebut juga diisi dialog antara guru ngaji untuk menginspirasi para guru ngaji lainnya.
Seperti pada penyaluran bantuan "Guru ngajiku" 2012 tahap akhir pada 3 Februari lalu di Mesjid Raya Bogor, yang diisi dengan ceramah oleh Ibdalsyah yang menyampaikan hikmah berzakat.
Berlin menambahkan, kegiatan penyaluran bantuan Guru Ngajiku yang diselingi dengan dialog dan ceramah agama akan terus dipertahankan.
"Kami berharap para guru ngajiku tidak hanya bersyukur karena mendapat bantuan uang, tetapi juga mendapat tambahan ilmu," katanya.
Sukarsih salah satu guru ngaji penerima bantuan dari BAZ Kota Bogor merasa bersyukur dengan bantuan yang diterimanya.
Perempuan berusia 60 tahun itu menjadi guru ngaji di Kampung Batuhulung, Kelurahan Situgede. Hampir setiap hari ia menghibahkan waktunya untuk mengajar ngaji anak-anak. Tak hanya soal tajwid, ia pun mengajari wudhu dan fikih shalat.
"Saya mengajar setiap sore dan malam hari," ujarnya.
Setiap sore atau malam, tidak kurang 20 anak memenuhi rumah Sukarsih. Rutinitas tersebut telah berlangsung lebih dari 10 tahun. Selama itu pula, Sukarsih tidak pernah membuat kewajiban anak-anak untuk membayarnya ketika ingin mengaji. "Saya hanya ingin beramal di hari tua," katanya.
Laily R
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.