Jakarta (ANTARA) - Pakar logistik dan transformasi digital, Siswadhi Pranoto Loe, menekankan pentingnya pembekalan keterampilan ekspor digital kepada generasi muda Indonesia.

Dalam era ekonomi global yang semakin terbuka, anak muda dituntut tidak hanya sebagai pengguna teknologi, melainkan sebagai pelaku aktif dalam rantai perdagangan dunia.

“Anak muda Indonesia harus dibekali wawasan ekspor sejak dini agar mereka tidak hanya menjadi pengguna, tapi juga pencipta produk yang mampu bersaing di pasar internasional. Kita perlu dorong mereka untuk memanfaatkan platform digital agar ekspor bukan lagi mimpi, tapi jalan karier,” ujar Siswadhi Pranoto Loe di Jakarta, Sabtu (19/7/2025).

Menurut data Kementerian Perdagangan RI, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih di bawah 15 persen jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Thailand (29 persen) dan Vietnam (40 persen). Padahal, Indonesia memiliki lebih dari 64 juta pelaku UMKM, di mana lebih dari 50 persen dimotori oleh generasi muda.

“Salah satu penyebab rendahnya kontribusi ekspor adalah keterbatasan literasi ekspor dan logistik digital. Banyak produk anak muda kita sudah layak ekspor, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara menjualnya ke luar negeri,” tambah Siswadhi.

Perkembangan teknologi telah membuka akses baru ke pasar global. Melalui platform seperti Alibaba.com, Amazon Global Selling, dan TikTok Shop Crossborder, pelaku usaha muda kini bisa menjual produk langsung ke luar negeri tanpa perlu memiliki kantor atau gudang di negara tujuan.

Namun, hal ini tetap membutuhkan pemahaman tentang regulasi ekspor, sistem pembayaran internasional, dan pengelolaan rantai pasok.
Siswadhi menyoroti pentingnya integrasi kurikulum ekspor digital ke dalam pendidikan vokasi dan universitas.

“Program studi yang berkaitan dengan bisnis, agribisnis, kreatif, dan teknologi informasi harus mulai menyisipkan modul ekspor digital. Ini bagian dari membangun daya saing bangsa,” ujarnya.

Ia juga mendorong sinergi antara pemerintah, swasta, dan lembaga pelatihan kerja. Program seperti Prakerja, inkubasi bisnis, dan sertifikasi profesi harus diarahkan agar mencetak digital exporters dari generasi muda.

“Kalau kita ingin Indonesia menjadi kekuatan ekonomi digital Asia, maka kita harus mulai dari anak mudanya. Bekali mereka dengan tools, mindset, dan jaringan global,” tutup Siswadhi Pranoto Loe.
Generasi Muda Terampil Ekspor

Guna menjawab tantangan globalisasi dan digitalisasi perdagangan, Siswadhi Pranoto Loe, menekankan pentingnya mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga terampil dalam praktik ekspor dan logistik.

Menurutnya, pembelajaran teori tanpa pengalaman lapangan hanya akan menciptakan lulusan yang kesulitan beradaptasi di dunia kerja.

“Kita butuh generasi muda yang tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga terampil secara praktikal. Dunia usaha harus turun tangan langsung dalam proses pendidikan ini,” ujar Siswadhi dalam wawancara bersama tim redaksi.

Data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 2023 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan SMK masih berada di atas 8 persen, tertinggi dibanding jenjang pendidikan lain.

Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya kesiapan kerja praktis dan relevansi kurikulum dengan dunia industri, khususnya di bidang ekspor dan logistik digital.

Siswadhi menilai, agar pendidikan vokasi efektif, kurikulum harus dirancang bersama industri. Dunia usaha harus hadir bukan hanya sebagai pengguna lulusan, tapi sebagai mitra aktif dalam proses pembelajaran: mulai dari pengembangan modul, penyediaan studi kasus nyata, hingga fasilitasi praktik kerja industri.

“Kita bisa mulai dari hal konkret. Misalnya, pelaku ekspor dan logistik memberikan proyek nyata kepada siswa: seperti menghitung ongkos kirim ekspor ke tiga negara berbeda, membuat simulasi negosiasi dengan buyer asing, atau menginput data barang ke sistem manajemen gudang digital,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penyediaan fasilitas pembelajaran berbasis industri di kampus dan sekolah. Beberapa SMK dan politeknik di daerah seperti Bandung, Solo, dan Surabaya telah membangun laboratorium ekspor– logistik dengan simulasi pelabuhan mini, sistem ERP, dan dashboard pemantauan pengiriman.

Namun, menurut Siswadhi, agar program ini meluas secara nasional, diperlukan insentif dan regulasi yang mendorong perusahaan untuk lebih terbuka bekerja sama dengan institusi pendidikan.

“Keterlibatan industri dalam pendidikan bukan CSR, tapi investasi jangka panjang untuk kualitas SDM,” tegasnya.

Dengan sinergi yang kuat antara dunia pendidikan dan usaha, Siswadhi optimistis Indonesia dapat mencetak generasi muda yang siap masuk ke dunia ekspor dan logistik global, membawa produk lokal ke panggung internasional.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026