Total jumlah pasien DBD yang dirawat sepanjang Januari hingga 3 Februari kemarin 216 orang terdiri dari 176 pasien dewasa dan 40 pasien anak.Bogor (Antara Megapolitan) - Rumah sakit umum daerah (RSUD) Kota Bogor, Jawa Barat, sejak Januari hingga 3 Februari 2016 telah merawat 216 pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD).
"Total jumlah pasien DBD yang dirawat sepanjang Januari hingga 3 Februari kemarin 216 orang terdiri dari 176 pasien dewasa dan 40 pasien anak," kata Kasubag Hukum dan Humas RSUD Kota Bogor, Okto Muhammad Ikhsan, saat ditemui, Kamis.
Ia mengatakan, pasien DBD yang dirawat di RSUD Kota Bogor sebagian besar adalah warga Kabupaten Bogor. Tercatat 123 pasien dewasa maupun anak-anak berasal dari luar Kota Bogor.
"Sisanya 93 orang pasien Kota Bogor," katanya.
Ia mengatakan jumlah pasien yang masih menjalani rawat inap di RSUD hingga saat ini sebanyak 66 pasien, jumlah ini bertambah dari hari sebelumnya sebanyak 51 orang. Kondisi seluruh pasien dirawat di ruang perawatan biasa, tidak ada yang dirawat di ICU maupun HCU.
Pihak RSUD mengoptimalkan ruang VIP untuk menampung pasien DBD yang jumlahnya meningkat dari pasien lainnya. Dari 18 ruang VIP, empat ruangan digunakan untuk merawat pasien. Satu ruangan diisi sekitar empat sampai enam orang pasien.
"Pasien yang datang berobat ke RSUD cukup banyak, kondisi ruang rawat inap kelas satu, dua dan tiga sudah penuh oleh pasien, baik itu DBD maupun penyakit lainnya," katanya.
Ia mengatakan RSUD sudah bekerja sama dengan Kodim 0606/Kota Bogor untuk meminjam kasur lipat yang biasa digunakan personel TNI di barak. Kasur tersebut digunakan untuk pasien yang menempati ruang VIP.
"Kapasitas tempat tidur RSUD 207, dengan penambahan kasur lipat totalnya menjadi 249 tempat tidur," katanya.
Sementara itu, ruang VIP Edelweis ditempati sekitar enam orang pasien, semuanya terjangkit DBD. Mereka ada yang menjalani perawatan sudah dua hari dan ada juga yang sudah dirawat enam hari.
Pasien dan keluarga pasien mengaku tidak nyaman harus menjalani perawatan dengan fasilitas seadanya, namun mereka tetap memilih untuk bisa dirawat karena biaya RSUD lebih terjangkau daripada rumah sakit lainnya.
"Sebenarnya tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi kalau kamar rumah sakit sudah penuh semua. Yang penting bisa sembuh, dan pulih," kata Muhammad Basit (27) warga Ciapus.
Okto menambahkan, RSUD memaksimalkan ruang VIP untuk merawat pasien DBD yang jumlahnya mengalami peningkatan. Mereka yang mau dirawat di ruang tambahan atas keinginan masing-masing.
"Mereka mau dirawat di ruangan ini (VIP) atas keinginan mereka, kondisi rumah sakit sudah penuh. Kita tetap optimalkan pelayanan," katanya.
Pewarta: Laily RahmawatiUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.