Varietas padi IPB 3S ini bisa menghasilkan sembilan ton per hektarnya.
Karawang, (Antara Megapolitan) - Varietas padi 3S yang dikembangkan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) dapat membantu petani di Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, meningkatkan produksi pertaniannya dari rata-rata enam ton menjadi sembilan ton per hektare.

"Varietas padi IPB 3S ini bisa menghasilkan sembilan ton per hektarnya," kata Tarma (51) Ketua Kelompok Tani Banyu Mukti I, saat ditemui di sela-sela panen raya di Kelurahan Plawat, Kabupaten Karawang, Minggu.

Menurut Tarma, selama dua tahun ini kelompok taninya mendapat pembinaan dari IPB. Mereka dikenalkan teknologi IPB Prima menggunakan varietas 3S.

Selama ini, lanjut Tarma, petani menggunakan varietas yang biasa digunakan, seperti Ciherang dan Mekonga, produksi yang dicapai rata-rata lima ton perhektare.

"Paling tinggi itu hanya enam ton," kata dia lagi.

Tarman mengatakan pula bahwa Kelompok Tani Banyu Mukti I memiliki anggota sebanyak 42 orang, dengan luas sawah yang ditanami benih padi varietas 3S seluas 30 hektare.


Taha Hama

Menurutnya pula, varietas IPB 3S itu memiliki keunggulan tahan terhadap hama, kualitas berasnya bagus, dan bisa ditanam pada musim kemarau.

"Peminatnya juga cukup banyak," katanya pula.

Peneliti dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB, sekaligus pendamping petani, DR Sugiyanta menjelaskan, pendampingan yang dilakukan IPB merupakan program kerjasama dengan Kementerian Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Kerawang.

"Pendampingan IPB ini melalui program Demfarm (Demonstration Farmer) menggunakan varietas 3S dengan teknologi IPB Prima," katanya.

Dijelaskannya lebih lanjut, varietas IPB 3S adalah varietas padi unggul tipe baru (PTB), yang merupakan silangan padi Indika dan Indo Jaboneka.

Padi ini anakannya sedikit 7-12, tapi malainya panjang, rata-rata dapatkan menghasilkan 300 gabah per malai.

Kalau dibandingkan dengan padi biasa hanya 100-150 per malai. Bobot 1.000 butir, varietas lama hanya 25 gram per 1000 butir, tipe IPB 3S 28 gram.

"Potensi hasil 11,2 ton per hektare, sedangkan Ciherang 8,6 ton per hektare," katanya.

Ia mengatakan, penggunaan varietas IPB 3S harus dibarengi dengan teknologi IPB Prima. Selain produksi tinggi, masa tanam juga lebih cepat seminggu dari varietas sebelumnya.

"Rata-rata produktivitas petani meningkat tiga ton per hektare," katanya.

DR Sugiyanta menjelaskan pula, beberapa penerapan teknologi IPB Prima di antaranya, lahan dikembalikan jerami, tes practis, pupuk urea, IPB bio, pemupukan sesuai rekomendasi IPB.

Ia mengatakan pula, program serupa juga dilaksanakan di daerah Telagasari seluas 140 ha, di Cilamaya 510 ha, total 650 ha.

"140 ha sudah dua tahun dibina, yang 600 ha baru musim ini dimulai," katanya.

Dijelaskannya lagi bahwa varietas ini relatif lebih tahan, meski belum diuji kekeringan, tetapi banyak informasi menyebutkan relatif tahan.

"Keunggulannya selain produksi tinggi, rasanya enak, lebih tahan terhadap burung, banyak anakan, sedikit tanam rapat, reklifnya tegak, varietas ini diluncur 2012," katanya.

Pewarta: Laily Rahmawati
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026