Jakarta (ANTARA) - Pakar pertanian IPB University, Prof. Bayu Krisnamurthi mengingatkan untuk menghadapi cuaca ekstrem dan kondisi geopolitik di Timur Tengah, penting bagi Indonesia memiliki sistem pangan yang tangguh.

Dia menilai industri sayuran nasional saat ini memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan dengan nilai produksi mencapai Rp 120 triliun per tahun. Di tengah tekanan geopolitik global dan perubahan iklim, penguatan sistem pangan sayuran menjadi keharusan untuk menjaga stabilitas pasokan dan meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia.

“Sistem pangan sayuran yang kuat melibatkan komponen penting mulai dari ketersediaan benih unggul, keandalan petani, hingga sistem penanganan pasca-panen yang modern guna menjaga stabilitas pasokan serta keamanan pangan,” ujar Prof. Bayu dalam diskusi media bertajuk Beyond Seeds: Strengthening Indonesia’s Food System yang diselenggarakan PT East West Seed Indonesia (EWINDO) di Jakarta, Rabu.

Prof. Bayu menjelaskan bahwa potensi besar industri ini turut didorong oleh rencana implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diprediksi membutuhkan pasokan sayur senilai Rp 10 trilyun per tahun. Menurutnya, keuntungan menjadi petani sayur saat ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya, sehingga menjadi daya tarik bisnis yang signifikan.

Namun, Prof. Bayu mengingatkan bahwa sektor ini juga  menghadapi tantangan serius seperti ketidakpastian iklim, kenaikan harga sarana produksi akibat konflik global, serta penurunan luas lahan.

Ia menekankan bahwa teknologi yang digerakkan oleh investasi adalah solusi utama untuk menciptakan varietas tanaman yang lebih produktif di lahan sempit sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Senada dengan hal tersebut, Managing Director EWINDO Glenn Pardede menegaskan bahwa sumber daya genetik tanaman, khususnya benih, merupakan fondasi biologis dari ketahanan pangan. Penggunaan varietas unggul terbukti mampu meningkatkan hasil pertanian antara 20 hingga 50 persen, tergantung pada kondisi lahan dan jenis komoditasnya.

“Kami melihat bahwa benih unggul adalah fondasi penting, tetapi tidak berdiri sendiri. Karena itu, kami mendorong pendekatan yang lebih luas dalam sistem pangan melalui peningkatan kapasitas petani dan mendorong konsumsi pangan sehat,” kata Glenn.

Untuk menjawab tantangan lingkungan, EWINDO telah mengalokasikan investasi besar pada teknologi bio molekuler dan Double Haploid. Perusahaan juga mengoperasikan bank genetik yang mengoleksi lebih dari 2.000 aksesi kekayaan genetik lokal, mulai dari tomat hingga cabai.

Hasilnya, berbagai varietas adaptif seperti bawang merah MERDEKA F1 dan tomat SERVO F1 kini telah membantu petani menghadapi anomali cuaca.

Selain penyediaan benih, penguatan sistem dilakukan melalui edukasi masif baik secara daring maupun luring. EWINDO telah menyediakan lebih dari 1.000 unit demoplot sebagai ruang belajar terbuka bagi petani, serta membangun pusat edukasi khusus seperti Rumah Bawang.

Upaya kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan sistem pangan yang tangguh demi masa depan ketahanan pangan nasional yang lebih stabil.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026