"Pesan film "Di Balik 98" ini kita sepakat kalau reformasi itu mati muda,"
Bogor, (Antaranews Bogor) - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan reformasi yang dahulu diperjuangkan oleh para mahasiswa Indonesia pada Mei 1998 kini telah "mati muda".

"Pesan film "Di Balik 98" ini kita sepakat kalau reformasi itu mati muda," kata Bima usai nonton bersama film Di Balik 98 di Botani Square, Jumat.

Menurut Bima, reformasi yang diperjuangkan oleh para mahasiswa pada Mei 98 yakni menuntut pemerintahan yang bersih tidak terwujud sampai saat ini, sehingga perjuangan itu masih sebelum waktunya.

"Korupsi, kolusi dan nipotisme masih terjadi, mungkin dalam berdemokrasi kita bangkit, tetapi pemerintahan yang bersih belum," katanya.

Kesan Bima usai menonton film Di Balik 98 karya sutradara Lukman Sardi ini, sebagai film yang mengisahkan secara jujur tentang tragedi Mei 1998.

Ia mengatakan, film tersebut berusaha untuk tidak menyakiti orang, tidak menyinggung orang-orang yang pernah terlibat dalam peristiwa bersejarah itu.

"Tidak ada peran yang dikecil-kecilkan dan dibesar-besarkan," katanya.

Akan tetapi, lanjut Bima, secara sinematografi film yang diperankan oleh banyak aktor kawakan tersebut dinilai kurang maksimal.

"Banyak fakta dibalik peristiwa itu yang tidak sampaikan, bagaimana mahasiswa bergerak, selalu ada pengkhianatan dalam setiap perubahan," ujarnya.

Tidak hanya itu, peran Amien Rais dalam kisah film tersebut tidak dijelaskan secara meyakinkan. Begitu juga Harmoko yang kala itu dalam situasi yang penuh segala dilema.

"Secara visualisasi ini kurang greget. Tetapi pesannya kita dapat, hanya penjabarannya masih kurang," katanya.

Ia mengatakan, kalau yang nonton orang-orang seusia kita atau mahasiswa dapat paham, tetapi kalau yang nonton anak-anak SMA ini akan kurang paham tentang reformasi yang telah diperjuangkan oleh para mahasiswa.

"Apa hubungan politik dengan kerusuhan rasial ini tidak jelas dijabarkan di film ini," katanya.

Meski pada saat reformasi, dirinya sedang study di Malbroune Australia, Bima mengaku setiap saat memantau perkembangan situasi di Tanah Air. Menurutnya dari berita-berita yang dibaca saat itu membuat ia menangis karena rumit kondisi kala itu.

Melihat pergerakan yang sudah dilakukan mahasiswa kala itu, lanjut Bima, saat ini tantangan para mahasiswa justru berbeda, pada masa reformasi mahasiswa berjuang dengan tulus, ikhlas, dan mampu mengorbankan rasa lapar dan haus demi satu tujuan yakni reformasi.

"Sekarang mahasiswa berjuang transaksional, demo untuk kepentingan siapa yang didukung," kata Bima.

Ia menambahkan, kekuatan bangsa Indonesia dalam mendobrak sebuah sistem memang diakui pintar, tetapi menata apa yang sudah berhasil didobrak belum bisa.

"Ya mahasiswa kita jagonya mendobrak, menatanya kurang," katanya.

Bima Arya mengundang sejumlah mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Kota Bogor untuk nonton bersama film Di Balik 98. Ia berharap para mahasiswa dapat mengambil pelajaran dari kisah Mei 1998 untuk membangun bangsa dan negara menjadi lebih baik lagi.



Pewarta: Laily Rahmawati
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026