Badan Informasi Geospasial (BIG) meluncurkan peta distribusi konsentrasi virus corona atau COVID-19 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, selama penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Analisis heat map menggunakan masukan (input) data titik pengamatan yang diinterpolasi menjadi gambaran permukaan untuk menunjukkan nilai kepadatan atau konsentrasi kejadian di wilayah Kabupaten Bogor," kata Kepala Bidang Pemetaan Kebencanaan dan Perubahan Iklim BIG, Ferrari Pinem dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/6).

Menurut dia, angka dalam peta itu dihitung berdasarkan jumlah kejadian positif terkonfirmasi di setiap desa atau kelurahan Kabupaten Bogor selama 64 hari, yaitu mulai 7 Maret 2020 hingga 14 Mei 2020.

Baca juga: BIG usulkan KKNI disetujui untuk segera diimplementasikan

Ferrari menyebutkan peta distribusi COVID-19 ini dapat digunakan untuk indikator lebih lanjut tentang sebaran angka atau nilai dari perhitungan setiap titik pengamatan yang mewakili jumlah total kasus terkonfirmasi positif di wilayah desa kelurahan tersebut.

Analisa ini dilaksanakan oleh Nugroho Purwono dan Ratna Sari Dewi selaku anggota Tim Penyiapan Data dan Informasi Geospasial Tematik Corona Virus Disease 2019 BIG yang dibentuk melalui Keputusan Kepala BIG No 21 tahun 2020.

Peta tersebut menunjukkan bahwa kepadatan konsentrasi tinggi kejadian positif COVID-19 di wilayah Kabupaten Bogor seperti Kecamatan Gunung Putri, Cileungsi, Cibinong, Bojonggede, Tajurhalang, dan Kemang.

"Berdasar derajat kepadatan yang menunjukkan tingkat konsentrasi kejadian dapat dikatakan bahwa penduduk beberapa desa di kecamatan tersebut mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi daripada wilayah lain. Wilayah tersebut berada pada episenter kejadian," paparnya.

Baca juga: Menparekaf bidik lokasi potensial pariwisata lewat BIG

Ia mengatakan bahwa beberapa desa di enam kecamatan itu merupakan wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan wilayah lain yang ada di Kabupaten Bogor. Hal itu dibuktikan dengan data kepadatan penduduk dimana titik konsentrasi kejadian berada pada desa atau kelurahan yang sebagian besar memiliki kepadatan penduduk lebih dari 100 jiwa per hektar

"Dengan kata lain potensi risiko masih tinggi karena epicenter berada pada wilayah dengan kecamatan yang padat penduduk," kata Ferrari.

Di samping itu, secara spasial didapati pola distribusi wilayah yang cenderung terpusat di bagian utara, yang mana lebih dekat dengan wilayah Kota Depok atau wilayah DKI Jakarta sebagai salah satu wilayah yang memiliki intensitas kasus tinggi secara nasional sejauh pandemi ini terjadi.

Baca juga: PUPR siapkan big data industri 4.0 konstruksi nasional

Menurutnya, peta yang ada juga menyimpulkan bahwa kecamatan yang menjadi konsentrasi kejadian positif adalah wilayah yang berasosiasi dengan akses transportasi utama wilayah Bogor - DKI Jakarta. Akses utama tersebut meliputi jalur kereta (KRL), jalan arteri (Jl. Raya Jakarta-Bogor), maupun jalan tol (Jagorawi).

"Dengan demikian maka, pola konsentrasi spasial kejadian positif yakni dominan berada pada wilayah yang dilintasi akses transportasi menuju dan dari DKI Jakarta," bebernya.

Pewarta: M Fikri Setiawan

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2020