Bogor (Antaranews Megapolitan) - Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan launching Pusat Kajian Sains Keberlanjutan dan Transdisiplin (Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences CTSS pada Selasa (6/11) di IPB International Convention Center (IICC), Bogor. Launching CTSS ini menjadi wujud nyata bagi IPB dalam berkontribusi dan mendukung untuk mewujudkan pilar-pilar Sustainability Development Goals (SDGs).

“CTSS ini akan menjadi pusat penelitian transdisiplin dalam mewujudkan sustainability dan menjadi pusat penelitian baru sebagai pusat kajian sains berkelanjutan,” ujar Rektor IPB, Dr. Arif Satria.

Rektor IPB berharap dengan dilaunchingnya CTSS ini penelitian transdisiplin dapat dilakukan secara kontinyu dan terintegrasi. Hal ini karena penelitian transdisiplin sangat diperlukan dalam menghadapi permasalahan kehidupan yang amat kompleks. Penelitian transdisiplin tersebut menyangkut beragam aspek seperti aspek sumber daya alam, dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Direktur CTSS, Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori, M.Sc, menyatakan bahwa penelitian transdisiplin masih relatif baru, baik pada tataran konsep maupun praktiknya di Indonesia. Ide pokok penelitian transdisiplin ini berasal dari berbagai akademisi yang memiliki beragam disiplin ilmu yang bekerja sama untuk menyelesaikan suatu masalah secara konkrit. Kolaborasi dalam penelitian transdisiplin meliputi pertukaran informasi, penyesuaian pendekatan dari masing-masing disiplin, berbagi sumberdaya, dan integrasi disiplin untuk mencapai tujuan ilmiah bersama.

“Transdisiplin ini merupakan bentuk baru dari sistem belajar dan menyelesaikan masalah yang melibatkan kerjasama antara beragam masyarakat dan akademisi untuk menghadapi tantangan yang kompleks,” ujar Prof. Damayanti.

Oleh karena itu, lanjut Prof. Damayanti, belajar bersama (mutual learning) menjadi ciri penting dalam proses penelitian transdisiplin. Pada prinsipnya, siapapun yang memiliki pengetahuan tentang suatu masalah yang hendak diselesaikan, mempunyai peran penting dalam penelitian transdisiplin. Dengan belajar bersama, pengetahuan semua peserta akan bertambah dan secara keseluruhan pengetahuan yang dihasilkan akan lebih besar dari pengetahuan masing-masing bidang peserta.

Prinsipnya, penelitian transdisiplin ini tidak hanya melibatkan akademisi, melainkan siapapun dapat terlibat dan memberi kontribusi dalam penelitian transdisiplin. Penelitian transdisiplin juga tidak hanya berada di level lokal, melainkan nasional, regional bahkan internasional. Dengan semakin kompleks persoalan, maka penyelesaian persoalan tersebut tidak bisa dilakukan secara parsial, sehingga diperlukan pendekatan holistik untuk menyelesaikannya.

Di Indonesia, sangat perlu dilakukan penelitian transdisiplin karena Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah. Tidak hanya kekayaan alam, melainkan juga kekayaan lokal yang tertuang dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Dengan bersatunya berbagai elemen dalam penelitian transdisiplin, termasuk komunitas lokal, diharapkan dapat memberikan jalan keluar bagi terwujudnya sebuah tatanan baru pengetahuan yang menjamin keberlanjutan daya dukung bumi. Tidak hanya itu, dengan bersatunya berbagai elemen dalam penelitian transdisiplin, pembangunan yang berbasis pada sumberdaya berkelanjutan dapat terwujud dan dapat menjaga kelestariannya. (Rosyid/Zul)

Pewarta: Oleh Humas IPB/Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2018