Bogor (Antaranews Megapolitan) - Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Bogor, Jawa Barat, sudah bisa memproduksi sperma "Belgian Blue" dan siap disebar ke masyarakat mulai tahun 2019 yang menunjukkan pengembangan sapi Belgian Blue di Indonesia memberi hasil positif.

"Saat ini pejantan Belgian Blue sudah siap diproduksi spermanya, untuk sapi murni kita punya Gatot Kaca, kalau untuk silangan ada lima ekor sapi pejantan," kata Kepala BET Cipelang, Oloan Parlindungan, saat menerima kunjungan Duta Besar Indonesia untuk Belgia, Yuri O Thamrin, dan Atase perdagangan Belgia, Cristopher Van Overstraeten di BET Cipelang, Senin.

Oloan menyebutkan sperma Belgian Blue berwujud beku yang akan disebar ke masyarakat bersumber dalam sapi Belgian Blue murni yang diproduksi BET melalui transfer embrio (TE).

Gatot Kaca merupakan sapi Belgian Blue pertama yang dilahirkan di Indonesia melalui TE oleh BET Cipelang. Saat ini sudah berusia 18 bulan.

"Tinggal menunggu empat bulan lagi sudah bisa diproduksi semennya," kata Oloan.

Ia mengatakan saat ini pejantan murni sapi Belgian Blue yakni Gatot Kaca sudah dikirim ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari untuk disiapkan menjadi sapi Bulls atau pejantan penghasil semen beku.

Menurutnya, untuk pengembangbiakan sapi Belgian Blue di tingkat masyarakat lebih disarankan menggunakan Inseminasi Buatan (IB) dengan mengawinkan pejantan Belgian Blue dengan sapi lokal Indonesia.

"Kami belum menganjurkan pengembangan Belgian Blue dengan cara TE di tingkat masyarakat," katanya.

Hal itu dilakukan karena bobot sapi Belgian Blue yang cukup besar akan menyebabkan proses persalinan secara sesar.

Sapi Belgian Blue atau sapi biru Belgia merupakan sapi unggulan dari Belgia yang memiliki konformasi perototan yang baik, dan persentase karkas yang tinggi sekitar 20 persen dari karkas sapi pada umumnya.

Sapi Gatot kaca yang berhasil dilahirkan di Indonesia berat lahirnya mencapai 65,5 kg. Kini bobotnya sudah mencapai 583 kg.

Tampilan sapi ini yang berotot dijuluki masyarakat sebagai sapi Aderai.

Menurut Oloan, jika Komisi Bibit maupun Dirjen Pembibitan merekomendasikan sperma Belgian Blue sudah boleh diedarkan, maka tahun 2019 sudah bisa diproduksi.

Berdasarkan peta jalan pengembangan sapi Belgian Blue di Indonesia ditargetkan 2021akhir sudah siap produksi semen beku. Dan 2022 sudah disebar ke masyarakat.

"Kenapa disebutkan 2021 karena berdasarkan karena titik awal perintah pak menteri dimulai pengadaan embrio semen yang tahun 2017," katanya.

Kalau untuk embrio 2017, lanjutnya baru akan lahir tahun ini. Sehingga umur sapi masih satu sampai dua bulan. Jadi butuh beberapa bulan lagi untuk diproduksi semennya atau sekitar 1,5 tahun sehingga baru 2021 bisa disebar.

Sementara itu, BET Cipelang di tahun 2017 sudah melahirkan pejantan Belgian Blue yakni Gatot Kaca dan tiga sapi lainnya yang diberi nama Dhanur dan Bima Sakti.

Saat ini ketiga sapi tersebut sudah disebar ke 11 UPT yang ada di lingkup Kementerian Pertanian, perusahaan, dan sekolah-sekolah untuk dikaji dan diperoleh data pengembangbiakannya.

"Kalau kita gunakan Gatot Kaca, Dhanur atau Bima Sakti, 2019 ini sudah bisa diproduksi spermanya," kata Oloan.

Untuk bisa disebar, perlu menunggu rekomendasi dari Komisi Bibit dan Dirjen Peternakan sebagai otoritas yang berwenang memberikan izin.

Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak, Kementerian Pertanian, Sugiono mengatakan sebelum disebar ke masyarakat perlu dilakukan kajian lagi untuk mendapatkan data yang akurat terkait tumbuh kembang Belgian Blue.

Ia mengatakan saat ini pengembangan sapi Belgian Blue sudah dikaji di tingkat UPT lingkup Kementerian Pertanian.

"Dan hasilnya bagus, kita akan kaji lagi ditingkat peternak yang sudah bagus manajemenya, setelah itu baru ke masyarakat," katanya.

Menurut Sugiono, sperma Belgian Blue baru bisa disebar di tahun 2021 setelah melalui tahapan kajian yang berjenjang dari lingkup UPT, dan uji coba di peternakan dengan manajemen pengelolaan yang bagus, dan baru ke masyarakat.

Hal-hal yang akan dikaji sebelum disebar yakni terlihat pertambahan bobot badan, pertumbuhannya, aspek kesehatan, dan aspek lingkungan.

"Kajiannya perlu dua tahu, dicoba dulu di kelompok tertentu punya manajemen bagus baru dilepas ke peternak," kata Sugiono.

Sapi Belgian Blue dikembangkan sebagai salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri yang kebutuhannya cukup tinggi.

Sapi Belgian Blue yang memiliki bobot lebih besar dibanding sapi pada umumnya diharapkan dapat meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri.

Pewarta: Laily Rahmawaty

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2018