Jakarta (Antara) - Menpora Imam Nahrawi, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo, dan Presiden Komite Olimpiade Asia (OCA) Sheikh Ahmad Al Fahad Al Sabah memutuskan bahwa upacara pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 tetap berlangsung di Jakarta.

Dalam acara "general assembly" di Ashgabat, Turkmenistan yang dihadiri oleh komite olimpiade dari berbagai negara anggota OCA, juga disepakati bahwa nama resmi pesta olahraga bangsa-bangsa Asia tersebut yakni "Jakarta-Palembang 2018 Asian Games", berbeda dari keputusan sebelumnya yang tidak mencantumkan nama Palembang.

"Belajar dari pengalaman Piala Dunia yang pernah berlangsung di Korea dan Jepang pada tahun 2002, sehingga muncul nama `2002 Korea-Japan World Cup', maka diputuskan adanya penamaan `Jakarta-Palembang 2018 Asian Games'. Ini mendobrak tradisi karena belum pernah ada dalam sejarah penyebutan dua nama dalam penyelenggaraan Asian Games selama ini," ujar Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kemenpora Gatot S. Dewa Broto melalui keterangan tertulis yang dirilis di website resmi Kemenpora di Jakarta, Rabu.

Selain itu, diputuskan juga bahwa harus ada transportasi bagus dan memadai untuk menghubungkan Jakarta dan Palembang sebagai tempat penyelenggaraan Asian Games 2018, termasuk kemudahan akses di dalam kedua kota tersebut.

Dalam acara yang dibuka oleh Presiden Turkmenistan Gurbanguly Berdimuhamedov itu, Menpora Imam Nahrawi memaparkan kesiapan pemerintah Indonesia menjelang Asian Games 2018 yang ditunjukkan melalui penerbitan keppres, finalisasi draf inpres dan draf master plan, serta pembahasan rencana renovasi sejumlah venue olahraga.

Menpora juga melaporkan "soft launching" Asian Games 2018 di Jakarta pada 9 September lalu, di mana burung cenderawasih sebagai salah satu kekayaan fauna khas Indonesia dari Papua yang menggambarkan kesatuan di tengah keragaman budaya Indonesia, dipilih sebagai maskotnya.

Menanggapi paparan tersebut, Presiden OCA Syeikh Ahmad Al Fahad Al Sabah mengaku sangat puas dengan keseriusan dan kesiapan Indonesia untuk menyelenggarakan kompetisi olahraga internasional empat tahunan tersebut.

"Perencanaan, pengerjaan renovasi, dan pembangunan venue harus tetap dilakukan sematang mungkin. Kami percaya pemerintah Indonesia dapat melakukannya dengan baik," kata Syeikh Ahmad.

Khusus untuk penyiapan teknologi informasi dan penyiaran (broadcasting), kata dia, hendaknya dilakukan secara intensif agar persiapan dan pelaksanaan Asian Games dapat dipublikasikan secara maksimal.

Menyadari bahwa Indonesia masih bermasalah dengan FIFA, Presiden OCA yakin masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan tidak akan mengganggu pelaksanaan cabang olahraga sepak bola yang dipertandingan di Asian Games.

Hal terakhir yang disepakati dalam acara tersebut adalah pelaksanaan Asian Youth Games pada 2017 di Jakarta sebagai bentuk "test event" dan pengecekan final beberapa venue olahraga yang akan dipertandingkan pada Asian Games 2018.

Peserta "General Assembly OCA" tersebut tidak hanya membahas laporan Indonesia menjelang Asian Games, tetapi juga ada sekitar 22 agenda lain, termasuk di antaranya persiapan Turkmenistan menjelang "2017 Asian Indoor and Martial Arts Games", persiapan Jepang dengan "2017 Asian Winter Games", dan persiapan Vietnam untuk "2016 Asian Beach Games".  

Pewarta: Yashinta Difa P

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2015