"Kasus itu dikhawatirkan akan terus melonjak. Karena memasuki musim hujan, berarti masuk musim penularan DBD (demam berdarah dengue)," kata Pengelola Program P2DBD Dinas Kesehatan Karawang, Dadang Wahyudin, Sabtu.
Dikatakannya, musim hujan disebutkan sebagai musim penularan, karena akan banyak genangan air. Kondisi itu dapat membuat populasi jentik nyamuk semakin meningkat. Dengan begitu, penularan DBD akan semakin beresiko.
Ia mengimbau agar masyarakat lebih mewaspadai ancaman DBD, dengan melakukan beberapa langkah antisipasi, seperti menggelar kerja bakti membersihkan lingkungan, dan lain-lain.
Termasuk di antaranya melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin. Sehingga populasi nyamuk dapat ditekan. Puskesmas-Puskesmas juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kasus tahun ini cukup tinggi. Sebab tahun lalu hanya mencapai 495 kasus, dan yang meninggal empat orang.
Di Karawang sendiri ada beberapa daerah yang rawan DBD, yakni daerah Kecamatan Telukjambe Timur, Klari dan Kecamatan Cikampek. Ketiga daerah rawan DBD itu menjadi fokus dalam rangka abatesasi dan fogging.
Abatesasi dilakukan penyelidikan epidimologi, petugas Dinkes dan Puskesmas akan mencari orang yang panas. Sedangkan daerahnya akan di cek dari kemungkinan adanya jentik nyamuk. Kemudian dilakukan abatesasi. Sedangkan jika ada yang meninggal, akan dilakukan fogging.
Pewarta: Oleh M. Ali KhumainiUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.