"Bukan hanya faktor alam yang menentukan, seperti musim panas yang panjang dan sangat terik. Tapi, juga kelalaian manusia seperti instalasi listrik buruk, tempat masak rawan atau perilaku warga sembrono,"
Jakarta (Antara) - Tokoh muda yang juga pengurus Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Indonesia Muhammad Idrus meminta pemerintah daerah DKI Jakarta serius menangani masalah kebakaran dan korban.

"Dulu Gubernur Joko Widodo berkampanye untuk mengadakan `Pawang Geni`, alat pemadam yang `mobile` berbentuk gerobak. Sampai sekarang belum terwujud karena proses pengadaannya terlambat. Padahal, masyarakat bisa bergerak lebih cepat jika ada sarana darurat," katanya di Jakarta, Minggu.

Muhammad Idrus, yang juga Koordinator Relawan Salam Republik Indonesia, selain melakukan kerja bakti membersihkan puing kebakaran di Jelambar, Jakarta Barat, juga ikut memberi santunan kepada korban.

Kebakaran di Jelambar terjadi Kamis (3/10), menghanguskan 104 rumah di empat rukun tetangga.

Akibatnya sebanyak 1.409 warga atau 316 kepala keluarga terpaksa mengungsi.

Ia mengatakan bahwa pemerintah DKI belum memanfaatkan tenaga relawan secara optimal, padahal kaum muda di pelosok gang dan kampung siap membantu evakuasi, jika dilatih.

"Sebab, kita tak bisa hanya mengandalkan petugas yang terbatas dan mobil pemadam tak bisa menjangkau wilayah padat," kata Idrus, wirausahawan yang biasa membina kaum muda dalam wirausaha dan olahraga.

Sebelumnya, pada Rabu (2/10), warga Kelapa Gading, Jakarta Utara juga mengalami kebakaran hebat.

Lebih dari 1.325 rumah hancur, sehingga 2.400 KK atau 5.300 jiwa mengungsi.

Namun, baru 465 jiwa dari 107 KK yang mau ditampung di GOR Judo. Warga lain membuat tenda darurat.

Sementara itu, pakar penanggulangan bencana Dr Bagus Aryo, melihat fenomena kebakaran di Jakarta dan kota-kota besar lainnya memang unik.

"Bukan hanya faktor alam yang menentukan, seperti musim panas yang panjang dan sangat terik. Tapi, juga kelalaian manusia seperti instalasi listrik buruk, tempat masak rawan atau perilaku warga sembrono," kata Bagus, yang juga Ketua Program Pascasarjana Jurusan Kesejahteraan Sosial FISIP UI.

Ia menambahkan risiko bencana lebih besar karena pemukiman padat dan kumuh tidak dilengkapi dengan sarana pemadam.

"Karena itu kesadaran dan pelibatan masyarakat untuk menghadapi kebakaran sangat penting dalam pengurangan risiko. Misalnya, pembuatan teralis besar untuk menjaga keamanan rumah, tapi dalam situasi kebakaran justru memperbesar risiko," kata Bagus yang akan meluncurkan buku "Penanggulangan Bencana

Berbasis Kesejahteraan Sosial".

Menurut dia, fenomena kebakaran di Jakarta memang mengkhawatirkan. Tahun 2011 tercatat 953 kasus, 2012 meningkat 1.013 kasus dan 2013 sampai bulan Juli sudah 486 kasus.

Kebakaran di Kemang Utara, Jaksel (22/9) menewaskan empat orang dan seorang bayi, di mana hal itu tercatat sebagai kebakaran terburuk di Jakarta.

Sedangkan sepanjang 2013 hingga Oktober di Jaksel terjadi 165 kebakaran.


Pewarta: Oleh Andi Jauhari
Editor : Teguh Handoko

COPYRIGHT © ANTARA 2026