Berau, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Indonesia bersama tiga negara tetangga yakni Malaysia, Filipina, dan Thailand berkolaborasi mengelola sampah plastik untuk melindungi ekosistem laut pulau-pulau kecil di perbatasan empat negara tersebut.
Kolaborasi ini diwujudkan dalam program "Plastic Smart Islands" yang diinisiasi World Wide Fund for Nature (WWF), guna menanggulangi sampah plastik di pulau-pulau kecil dan kawasan pesisir agar tidak masuk ke laut, sekaligus mengubah sampah jadi bernilai ekonomi.
"Plastic Smart Islands merupakan wadah kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antara Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand dalam upaya pengendalian sampah plastik, khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan," ujar Wakil Bupati Berau, Gamalis di Tanjung Redeb, Sabtu.
Program tersebut mendorong pengelolaan sampah terpadu berbasis prinsip reduce/ mengurangi penggunaan plastik, reuse/ menggunakan kembali, recycle/ daur ulang (3R) sebagai solusi penanggulangan sampah plastik yang makin meningkat.
Baca juga: Gaya hidup minim sampah butuh konsistensi dan dukungan lingkungan
Baca juga: Pemkab Bangli fokus tangani sampah di Sungai dan Danau
Dalam kolaborasi ini, WWF telah menginisiasi pertemuan antara Pemkab Berau bersama tiga negara tersebut di Hotel Mercure, Tanjung Redeb, Berau pada Selasa, 12 Mei 2026.
Dalam kesempatan itu, Gamalis menyampaikan persoalan sampah menjadi tantangan serius yang perlu ditangani bersama melalui langkah nyata dan berkelanjutan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2024, timbunan sampah di Kabupaten Berau mencapai sekitar 54 ribu ton.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 67,67 persen sampah telah dilakukan pengelolaan, sedangkan sisanya yang 32,33 persen masih belum tertangani, sehingga perlu dilakukan penguatan 3R.
Baca juga: Menyuling sampah plastik jadi BBM alternatif
Ia menyebut, komposisi sampah terus meningkat, khususnya sampah plastik yang berpotensi mencemari air, tanah maupun udara, sehingga pihaknya terus mendorong peningkatan penanganan melalui sistem persampahan terpadu.
"Tempat pemrosesan sampah diprediksi mengalami kelebihan kapasitas pada 2028 mendatang. Jika tidak diimbangi dengan pengelolaan sampah yang baik sejak sekarang, maka persoalan lingkungan akibat sampah makin kompleks," katanya.
Salah satu langkah yang didorong adalah penerapan model tata kelola sampah berbasis tempat pengelolaan sampah (TPS) 3R. Model ini dinilai dapat menjadi program berkelanjutan dan diterapkan secara luas, tidak hanya di kawasan Kepulauan Derawan, tapi juga pulau-pulau kecil lainnya.
"Dalam TPS 3R, sampah dipilah sejak dari sumbernya, kemudian diolah sesuai jenisnya. Sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos maupun pakan ternak berupa magot (ulat), sedangkan sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi," ujar Gamalis.
Pewarta: M.GhofarUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026