Depok (ANTARA) - Fakultas Psikologi Universitas Pancasila mendorong mahasiswa menjadi “Power Human” di Era Artificial Intelligence/AI yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mengolahnya menjadi solusi yang bermakna dan berdampak.

CEO Inspigo sekaligus penulis buku Becoming Power Human, Tyo Guritno menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan manusia, melainkan akan menggantikan individu yang tidak memiliki arah, nilai, dan makna dalam berkarya.

CEO Inspigo Tyo Guritno menyampaikann hal tersebut saat kuliah umum yang berjudul “The Masterpiece Mindset for the AI Generation”,  di Fakultas Psikologi UP Jakarta, Senin.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Prof. Dr. Awaluddin Tjalla, M.Pd, bersama jajaran dosen serta seluruh mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Pancasila.

Pada paparannya, Tyo mengamati fenomena “workslop”, yaitu kondisi di mana individu mampu menghasilkan banyak pekerjaan dengan bantuan AI, namun tidak memiliki pemahaman mendalam terhadap apa yang dikerjakan. Fenomena ini dinilai berpotensi menimbulkan ilusi kompetensi serta menurunkan kemampuan berpikir kritis.

“AI adalah tentang kecepatan, tetapi manusia adalah tentang makna. Tanpa makna, kecepatan hanya akan membawa pada stagnasi,” ujar Tyo.

Tyo juga menekankan pentingnya proses berkarya sebagai inti dari pengembangan diri di era AI. “Kunci dari segalanya adalah berkarya. Cobalah memetakan persoalan yang ada, karena ada nilai-nilai mendalam yang tidak bisa diproduksi oleh AI,” ungkapnya.

Melalui konsep Masterpiece Mindset, mahasiswa diajak untuk membangun karya dengan niat, kualitas, serta proses pembelajaran yang berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip psikologi perkembangan yang menekankan pentingnya growth mindset, yaitu pola pikir yang mendorong individu untuk terus berkembang melalui proses belajar dan pengalaman.

Selain itu, mahasiswa didorong untuk bertransformasi dari sekadar consumer menjadi builder, individu yang mampu menciptakan produk, solusi, bahkan inovasi berbasis AI.

Transformasi ini juga berkaitan dengan penguatan self efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas dan menghadapi tantangan.

Sebagai langkah konkret, mahasiswa diajak untuk mulai membangun proyek AI sederhana dalam waktu tujuh hari, dimulai dari mengidentifikasi permasalahan hingga meluncurkan solusi awal kepada pengguna.

Pendekatan ini mencerminkan prinsip behavioral activation, yang menekankan pentingnya tindakan nyata sebagai pemicu motivasi dan pembelajaran.

Indonesia sendiri dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan inovasi berbasis AI, khususnya di psikologi, kesehatan, pendidikan, dan UMKM.

Beragam tantangan yang ada, generasi muda diharapkan mampu menghadirkan solusi yang relevan dan berdampak luas bagi masyarakat.

“Teknologi tidak hadir untuk menggantikan manusia, tetapi untuk memperbesar potensi terbaik dalam diri kita,” tutup Tyo.





Pewarta: Feru Lantara
Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026