Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi menyatakan ekspor pupuk urea dilakukan sepanjang kebutuhan domestik terpenuhi, dengan prioritas utama menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan bagi sektor pertanian nasional.

"Yang penting Indonesia aman dulu, baru ekspor," kata Rahmad ditemui usai rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan dalam kondisi saat ini Indonesia masih mampu mengekspor pupuk urea guna membantu memenuhi kebutuhan negara-negara tetangga yang mengalami keterbatasan pasokan di tengah penutupan Selat Hormuz akibat gejolak global Timur Tengah.

Negara tujuan ekspor pupuk urea Indonesia selama ini antara lain Australia, India, serta sejumlah negara lain di kawasan, namun Rahmad, menegaskan ekspor dilakukan dengan tetap mengutamakan kepentingan dalam negeri.

Rahmad menyebutkan kapasitas produksi urea nasional mencapai 8,8 juta ton secara operasional, meskipun kapasitas terpasang sebesar 9,4 juta ton.

Menurutnya, meskipun harga urea global meningkat tajam dari sekitar 400 dolar AS per ton menjadi 800 dolar AS per ton, Indonesia tetap aman karena sebagian besar kebutuhan dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Terkait kuota ekspor, Pupuk Indonesia menyebutkan jumlahnya berkisar sekitar 1,5 juta ton, namun penyaluran tetap fleksibel mengikuti kondisi pasokan domestik.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan sejumlah negara kini mengincar pupuk dari Indonesia sebagai imbas krisis geopolitik di Timur Tengah yang memicu gangguan suplai urea dunia.

"Mereka mau impor pupuk dari Indonesia, berapapun dia bayar," kata Wamentan seusai membuka Konferensi Pupuk Asia 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (1/4/2026).

Wamentan mengungkapkan ada enam negara yang ingin impor pupuk dari Indonesia itu di antaranya India, Brasil, Australia, dan Filipina.

Konflik di Timur Tengah berimbas terhadap terganggunya jalur perdagangan global di Selat Hormuz termasuk pasokan pupuk yang sekitar 30 persen pupuk dunia melewati jalur vital tersebut.

Akibatnya terjadi kenaikan harga signifikan misalnya untuk harga pupuk urea berdasarkan data Trading Economics yang diakses pada Rabu (1/4/2026) pukul 13.00 WITA, harga urea per ton menyentuh 690 dolar AS, melonjak dari awal Januari 2026 kisaran 350-380 dolar AS.

Sudaryono menjelaskan Indonesia berpotensi besar untuk menjadi stabilisator pasokan pupuk dunia di tengah krisis geopolitik itu setelah pemerintah memastikan kebutuhan pupuk untuk pertanian di dalam negeri mencukupi.


Baca juga: Pupuk Indonesia dorong pembangunan pabrik metanol untuk mandatori B50

Baca juga: Pupuk Indonesia pastikan stok pupuk aman meski Timur Tengah bergejolak



Pewarta: Muhammad Harianto
Editor : Erwan Muhadam

COPYRIGHT © ANTARA 2026