Jakarta (ANTARA) - "Cita-citaku, ingin jadi profesor. Bikin pesawat terbang, seperti Pak Habibie."
Penggalan lirik lagu "Kapal Terbang" dari penyanyi cilik Joshua Suherman itu membuat nama Habibie di ingatan generasi 90-an lekat dengan dunia dirgantara.
Selain identik dengan pesawat, Habibie kemudian dikenal sebagai presiden ketiga Republik Indonesia.
Puluhan tahun berlalu, kisah cintanya bersama Hasri Ainun Besari diadaptasi menjadi film "Habibie & Ainun" yang dibintangi Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari.
Meski Habibie dan Ainun telah tiada, perjalanan hidup dan kisah cintanya tetap abadi. Wisma Habibie Ainun, rumah kepresidenan yang dibuka untuk publik, membuat masyarakat bisa menginjakkan kaki ke tempat yang menjadi saksi hidup Habibie serta Ainun, serta mendengarkan cerita personal tentang kedua pasangan ini langsung dari mulut keluarganya.
Masih banyak aspek kehidupan dari B.J. Habibie yang belum diketahui banyak orang, salah satunya dari sisi kuliner.
Makanan seperti apa yang biasa disantap Habibie dan Ainun? Hidangan apa yang Habibie sajikan untuk tamu yang berkunjung ke rumahnya?
Sedikit rahasia dari dapur keluarga Habibie dan Ainun terkuak dalam program Habibie Legacy Experience hasil kolaborasi antara Wisma Habibie Ainun dan Plataran Catering Services. Setelah menyusuri ruang-ruang penuh sejarah di rumah Habibie dan Ainun, para pengunjung bisa menikmati sajian yang terinspirasi dari kuliner favorit salah satu pasangan ikonik Indonesia itu.
Sayur lodeh andalan
Meski lama menetap di Eropa, cita rasa yang disukai oleh keluarga Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie dan istrinya Hasri Ainun Besari tetaplah hidangan Nusantara.
Satiyah sudah bekerja di dapur keluarga Habibie & Ainun selama lebih dari tiga dekade, sejak masih lajang hingga kini dikaruniai cucu. Kebetulan, suaminya adalah asisten dari BJ Habibie. Meski Habibie dan Ainun telah berpulang, Satiyah dan suaminya masih bekerja di sana.
"Saya masih memasak untuk putranya," kata Satiyah di Jakarta, Senin (30/3).
Apa yang ia suguhkan di meja makan tak jauh dari menu-menu makanan rumahan Nusantara. Semuanya serba sederhana, tidak boleh terlalu mewah. Makanan kesukaan pasangan ini adalah menu yang familier bagi masyarakat Indonesia.
Tahu, tempe, dan sambal terasi adalah menu wajib di sana. Khusus sambal, Satiyah biasanya membuat dua macam: sambal yang lebih asin dan gurih untuk Habibie, sementara yang agak manis khusus untuk Ainun.
Selain itu, aneka sayur seperti sayur lodeh, sayur asem, juga sayur bening juga sering ia masak. Menu-menu tersebut dibuat berdasarkan resep yang diajarkan Ainun dan dipadukan dengan gaya memasak Satiyah.
Satiyah tak cuma memasak untuk Habibie beserta anggota keluarganya, tetapi juga tamu-tamu yang datang ke rumah, termasuk duta besar hingga tokoh politik. Ia beraksi di dapur sendirian, bahkan ketika harus memasak untuk puluhan orang.
"Saya pernah memasak untuk 70 orang," kata Satiyah yang lebih senang memasak tanpa bala bantuan.
Setengah berseloroh, Satiyah berkata bahwa resep-resep itu adalah rahasia dapur.
Lantas, bagaimana caranya agar rasa makanan yang disukai Habibie dan Ainun bisa diduplikasi dalam pengalaman ini?
Chef Reiyan Trisandra, corporate chef Plataran Indonesia, memang tidak mendapatkan resep tertulis dari Satiyah.
Dia menciptakan menu dari "membedah" rasa makanan-makanan yang dibuat oleh Satiyah.
"Untuk resep memang tidak dikasih tertulis, tapi saya dikasih produknya, juga ada kisi-kisi untuk bahan baku, di situ saya timbang bahannya agar padu padannya pas," kata Reiyan kepada ANTARA.
Dia mengombinasikan metode memasak ala restoran dengan cita rasa makanan khas keluarga Habibie.
Hasilnya adalah Sayur Lodeh Kenangan Ainun, Ayam Semur si Gula Jawa, Sate Domba Gulai Kota Kembang, Iga Sapi Saus Soto Betawi Andalan Satiyah, Nasi Liwet Manunggal, dan Strudel Apel Pelukan Jerman.
Sayur lodeh yang menjadi suguhan pertama sering menjadi bagian dari jamuan untuk tamu-tamu Habibie saat masih menjabat sebagai presiden. Biasanya, sayur lodeh di keluarga Habibie menggunakan krimer sebagai pengganti santan.
Untuk sajian dalam program ini, Chef Reiyan menambahkan air kelapa serta krimer dalam kaldu sup lodeh. Batok kelapa berfungsi sebagai pengganti mangkok, isinya potongan labu siam, terong, kacang panjang, kol, jagung, dan melinjo. Sebagai pelengkap, ada rempeyek yang renyah dan sambal yang tidak terlalu pedas.
Makanan kedua kemudian disajikan: nasi liwet berbentuk kerucut yang ditutupi daun pisang dikelilingi oleh sumber protein: ayam, domba, dan sapi.
Untuk Ayam Semur si Gula Jawa -- Gula Jawa adalah panggilan sayang Habibie untuk Ainun-- Chef Reiyan membuat ayam goreng crispy dengan bumbu semur yang diadopsi dari hidangan favorit sang mantan presiden. Kelembutan kayu manis, kecap, gula jawa, cengkeh dan bunga lawang menciptakan aroma khas Indonesia yang menggugah selera. Rasa manisnya pun pas, tidak berlebihan.
Sate Domba Gulai Kota Kembang diolah dengan teknik memasak sous vide, daging dimasukkan ke dalam plastik vakum dan direndam dalam air bersuhu rendah. Hasilnya, sate domba yang potongan dagingnya berbentuk dadu ini sangat lembut dan mudah dikunyah. Bumbunya mengingatkan kepada rasa bumbu sate padang.
Makanan penutupnya, Strudel Apel Pelukan Jerman, dipilih untuk mewakili perjalanan hidup Habibie dan Ainun di Eropa, tepatnya negara Jerman. Hidangan pencuci mulut compote apple, potongan apel yang dimasak dengan kayu manis dan gula Jawa, dipadukan dengan es krim karamel asin menjadi penutup yang sempurna.
Rasa manis dari strudel apel mewakili manisnya kisah cinta antara Habibie dan Ainun yang dikenal romantis. Salah satu anekdot soal Habibie adalah ketika ia pulang ke rumah saat baru berangkat kerja gara-gara lupa menyesap kopi buatan Ainun.
"Kenapa disebut dengan pelukan Jerman? Karena di dalam sweetness yang kita bikin di situ ada kehangatan dan keharmonisan keluarga di sini," kata Reiyan.
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026