Blangkejeren, Gayo Lues (ANTARA) - Suasana pedesaan selalu memiliki cara sendiri dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Ia tidak riuh oleh gemerlap lampu neon pusat perbelanjaan mewah, tidak pula disesaki etalase kaca yang menawarkan diskon besar-besaran.

Di pedalaman Gayo Lues, persiapan Lebaran cukup ditandai oleh pasar kalangan yang mendadak riuh; dipadati keranjang anyaman bambu dan wajah-wajah pedagang yang tampak lelah tapi sumringah, seolah baru terjaga dari tidur singkat demi menjemput rezeki tahunan.

Namun, justru dari ruang-ruang sederhana yang jauh dari hiruk-pikuk kota itulah, makna kemenangan sering kali terasa lebih otentik. Ada kejujuran yang terpancar dari tiap butir keringat dan jabat tangan yang erat.

Suasana inilah yang terekam jelas di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Sebuah wilayah yang kerap dijuluki "Tanah Syurga" di Dataran Tinggi Gayo, yang meski kini sedang diuji oleh luka bencana, warganya tetap melangkah menjemput Lebaran dengan cara yang paling hangat dan bermartabat.

Jumat pagi itu, jarum jam baru saja menyentuh angka delapan. Udara pegunungan yang menusuk tulang perlahan mulai berbaur dengan hangat matahari yang malu-malu muncul dari balik rimbun hutan Leuser.

Dalam tengah kesunyian itu, sesosok pria tampak mondar-mandir sembari mendekap toa pengeras suara. Ia adalah Ramadhan, Kepala Desa Agusen, atau yang lebih akrab disapa Pengulu oleh warganya.

Ia mengumumkan agenda penting hari ini: kerja bakti, membersihkan sebidang tanah lapang yang akan dijadikan lokasi salat Idul Fitri berjamaah pada Sabtu besok.

"Setiap kepala dusun, ajak warganya! Bawa cangkul, sekop, dan ember. Kita buat tempat sujud kita nyaman besok pagi. Wajib, ya, wajib!" serunya dengan nada yang tegas tapi kebapakan.

Seruan itu bukan sekadar perintah birokrasi. Bagi warga Agusen, suara Ramadhan adalah panggilan untuk kembali merajut kebersamaan. Tim ANTARA melihat langsung bagaimana instruksi itu disambut dengan gerak cepat.

 

Ramadhan, Pengulu atau Kepala Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, Jumat (20/3/2026) sibuk menyiapkan perayaan malam takbiran dan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriyah/2026 berjamaah yang akan digelar Sabtu (21/3/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo.

 

Anak-anak kecil berlarian riang di pematang tanpa terdistraksi gawai di tangan. Sementara kaum pria, dengan sarung yang disampirkan di bahu, mulai mengayunkan cangkul, meratakan tanah yang masih menyisakan sisa-sisa material sedimen pasca-bencana.

Di Agusen, waktu menuju Lebaran seolah melambat, memberi ruang bagi tradisi untuk bernapas. Ramadhan tidak hanya memastikan lapangan bersih, ia juga memastikan dapur warga tetap berasap.

Sementara itu tradisi malam takbiran dipersiapkan dengan saksama. Bambu-bambu hutan dipotong seukuran genggaman tangan, dibersihkan, lalu diisi beras ketan yang telah dicampur santan kental dipadatkan ke dalam selongsong bambu yang telah dilapisi daun pisang muda.

Aroma gurih santan yang mendidih di atas bara kayu kopi seketika memenuhi selasar rumahnya, menciptakan wangi khas yang hanya muncul setahun sekali.

Tak hanya itu, tradisi Meugang atau ritual memotong ternak di Aceh sebelum hari raya tetap dijalankan dengan khidmat.

Tahun ini terasa sedikit istimewa; dua ekor sapi jenis Limosin kiriman langsung dari Presiden Prabowo disembelih di desa ini. Ramadhan berdiri di sana, memastikan setiap potongan daging terbagi rata hingga ke tangan keluarga yang paling membutuhkan.

Ia ingin memastikan tidak ada satu pun rumah yang tidak mencium bau harum rendang atau gulai di hari kemenangan nanti.

Namun, di balik geliat persiapan yang tampak normal itu, tersimpan memori kelam yang belum sepenuhnya pudar.

Untuk mencapai Agusen, siapapun harus melewati jalanan berkelok ekstrem yang mengikuti kontur perbukitan terjal pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Indah sekali. Bukit berselimut kabut. Udara pun sejuk menghembuskan aroma khas daun dan bunga-bunga hutan. Tapi keindahan alam itu kini bersanding dengan bekas-bekas luka tanah longsor.

Sungai yang membelah kampung itu masih mengalir, namun wajahnya telah berubah. Ramadhan menatap aliran air itu dengan pandangan menerawang. Dahulu, airnya jernih kristal, menjadi sumber kehidupan dan irigasi. Bahkan sempat menjadi destinasi wisata kebanggaan di Gayo Lues.

Ekowisata Agusen namanya. Menyediakan beragam aktivitas wisata seperti pemandian alam, arung jeram, tubing, hingga wisata minum kopi di kebun kopi menjadi pilihan yang diminati wisatawan, terutama saat akhir pekan dan hari libur keagamaan, seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.

Kunjungan wisatawan saat sebelum bencana bahkan mampu mencapai ribuan orang dalam satu waktu, sehingga memberikan peluang ekonomi bagi warga setempat.

Kini, destinasi wisata itu nyaris hancur total. Aliran sungai itu menjadi dangkal - melebar liar, menyisakan hamparan batu besar bekas terjangan banjir bandang yang datang tanpa ampun November akhir tahun lalu.

"Dahulu di sana itu lahan kopi dan padi warga," tunjuknya ke arah hamparan batu dan pasir. Ia mendadak berseru "Nah kalau ini kantor saya, kantor penghulu. Habis semua berkasnya sekarang hanya tersisa material yang dibawa arus".

Desa ini dihuni 279 keluarga yang tersebar di empat dusun, yaitu Toa, Uken, Singah Mule, dan Pal15.

Akibat bencana itu di Dusun Uken, 67 kepala keluarga kehilangan rumah, sedangkan di Singah Mule empat rumah hanyut. Sementara Dusun Toa, tiga rumah hanyut dan 25 rumah mengalami kerusakan berat. Dusun Pal15 sempat terisolasi selama tiga minggu karena jalan tertimbun longsor, sehingga distribusi logistik membutuhkan waktu yang cukup lama.

Total ada sebanyak 155 kepala keluarga kini terpaksa menghuni rumah hunian sementara (huntara). Luas hunian tersebut adalah 3,6 x 4,8 meter dan teras seluas 1,2 meter. Sementara itu, kamar mandi yang berukuran 1,2 x 1,2 meter ditempatkan di area luar hunian.

Salah satu dari sederetan rumah sealakadarnya itulah Ramadhan kini tinggal. Ia menolak tinggal rumah pribadinya yang lebih layak jika itu artinya harus jauh dari warganya.

Baginya, memimpin bukan tentang duduk di kursi empuk, melainkan tentang mencium bau asap dapur yang sama dengan rakyatnya.

Siang menjelang, Ramadhan kembali menyusuri lorong-lorong huntara. Pemandangannya kontras dimana dinding kayu tipis dan atap seng yang memantulkan panas. Namun, kehidupan tetap berdenyut. Seorang ibu tampak tenang mengaduk sayur di atas kompor gas kecil, sementara anaknya berbisik pelan menanyakan menu masakan.

Ramadhan hanya menyapa singkat, melempar senyum, atau sekadar menepuk bahu para pria yang sedang duduk di depan pintu. Ia tahu, Idul Fitri di pengungsian adalah ujian mental yang berat. Ia teringat masa-masa sulit ketika seluruh desa harus mengungsi ke Balai Latihan Kerja (BLK) di Blangkejeren, menempuh jarak 22 kilometer demi mencari selamat.

“Dua bulan penuh kami di sana, pengungsian serba sangat terbatas jauh dari kenyamanan tanah kelahiran. Sekarang, meskipun di huntara, kami sudah bisa puasa di kampung sendiri. Lebih dekat, lebih tenang,” ungkapnya lirih.

Ingatan tentang malam banjir itu masih tajam seperti sembilu. Hujan berhari-hari, lalu suara gemuruh kayu-kayu besar yang menghantam rumah dalam gelap gulita. Saat itu, dalam kepanikan luar biasa, Ramadhan dan para orang tua hanya memikirkan satu hal, menyelamatkan anak-anak. Harta benda dibiarkan hanyut, rumah dibiarkan luluh lantak, asalkan nyawa tetap dikandung badan.

Kini, perlahan namun pasti, Agusen bangkit. Listrik yang sempat padam berbulan-bulan telah kembali menyala, mengusir sunyi yang mencekam di malam hari. Anak-anak kembali terdengar melantunkan ayat-ayat suci di musala darurat. Salat tarawih tetap dilaksanakan meski dengan alas seadanya.

Bagi Ramadhan, yang terpenting bukan kemegahan bangunan masjidnya, melainkan barisan saf yang tetap rapat. Bencana mungkin telah menghancurkan sendi-sendi ekonomi mereka, tapi gagal menghancurkan ikatan batin warga Agusen.

Menjelang petang takbir dan tahmid mulai bergema. Orang tua, nak-anak berjalan berkeliling kampung yang kondisinya seperti latar film perang. Sementara Remaja-remaja desa mulai menyiapkan halaman untuk menjadi tempat Shalat Idul Fitri (Id) berjamaah, Sabtu (21/3).

Malam pun tiba. Warga penghuni huntara, tua dan muda berkumpul di sisi tebing menghadap kampung mereka yang hancur itu. Mereka menyerukan takbir seraya menonton pesta kembang api yang digelar tim ANTARA.

Di momen itulah, detik-detik menuju hari raya terasa begitu hebat. Lebaran tahun ini di Gayo Lues bukan sekadar perayaan setelah sebulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah sebuah proklamasi ketabahan sekaligus tanda bahwa masyarakat Agusen telah menang melawan rasa trauma dan keputusasaan.

Dalam rekaman mata ANTARA, Gayo Lues mengajarkan satu hal penting bahwa kemenangan yang paling sejati seringkali ditemukan di tempat yang paling sunyi, di hati orang-orang yang tetap bersyukur meski dunia sedang tidak baik-baik saja.

Dari Agusen, Idul Fitri tetaplah "Raya", karena ketulusan mereka jauh lebih luas daripada luka yang mereka tanggung.



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026