Jakarta (ANTARA) - Tradisi pembuatan kapal yang berusia ratusan tahun kini menopang industri yacht charter miliaran rupiah di Labuan Bajo dan Raja Ampat.

Kapal phinisi, yang seni pembuatannya diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 7 Desember 2017 di Pulau Jeju, Korea Selatan, kini bukan sekadar simbol maritim Indonesia.

Di perairan Labuan Bajo dan Raja Ampat, kapal layar tradisional dua tiang ini telah bertransformasi menjadi tulang punggung industri yacht charter yang bernilai ekonomi tinggi.

Menurut majalah Yacht Style edisi Maret 2026, Indonesia sedang mengalami apa yang disebut sebagai "phinisi boom" lonjakan pembangunan dan pemesanan kapal phinisi baru untuk tujuan wisata mewah. Beberapa galangan kapal bahkan memiliki masa tunggu hingga 18 bulan untuk proyek baru.

Tradisi ini berakar di Bulukumba, Sulawesi Selatan, tempat masyarakat Bugis dan Makassar mewariskan keahlian pembuatan kapal dari generasi ke generasi. UNESCO mencatat bahwa pembuatan kapal dan pelayaran bukan hanya penopang ekonomi komunitas, tetapi juga fokus utama kehidupan dan identitas sehari-hari.

Di Labuan Bajo, kapal-kapal phinisi ini dioperasikan oleh berbagai operator wisata bahari. Beberapa di antaranya adalah operator lokal seperti Komodo Luxury yang didirikan oleh Agung Afif melalui Indonesia Juara Trip pada 2015, serta operator internasional yang mengelola charter melalui broker berbasis di Monaco dan Singapura.

"Indonesia adalah registri maritim tertutup. Hanya kapal milik lokal yang bisa beroperasi sebagai charter di sini. Mayoritas adalah kapal phinisi," kata Nicolas Crétin dari Pacific High, perusahaan manajemen yacht.

Regulasi ini menciptakan keunggulan kompetitif bagi pelaku usaha lokal. Namun, tantangan tetap ada. Di Sulawesi, deforestasi mengancam pasokan kayu besi (ironwood) yang menjadi bahan utama lambung phinisi. Di Raja Ampat, aktivitas tambang nikel untuk baterai kendaraan listrik sempat mengganggu beberapa titik selam sebelum pemerintah mencabut sebagian besar izin tambang pada 2025.

Meski demikian, permintaan terus meningkat. Kantor Imigrasi Labuan Bajo mencatat 45 cruise dan yacht asing berkunjung pada semester pertama 2025, melampaui total 42 kunjungan sepanjang 2024. Industri yacht Asia Tenggara secara keseluruhan bernilai US$ 1,5 miliar pada 2023 dan diperkirakan tumbuh 12 persen per tahun.

Bagi Labuan Bajo, pertumbuhan ini berdampak langsung pada ekonomi lokal. Tidak hanya operator kapal yang diuntungkan, tetapi juga awak kapal, pemandu wisata, dan pemasok logistik yang sebagian besar berasal dari komunitas setempat.




Pewarta: Antara
Editor : Feru Lantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026