Samarinda (ANTARA) - Nasib seseorang tak ada yang tahu. Hari ini mungkin berada dengan posisi tangan di bawah, terjerembab dalam keadaan papa, tapi suatu hari dia bisa jadi dia masuk golongan yang bermartabat, berada pada posisi tangan di atas.

Secara logika, tak ada yang mau hidup miskin terus-menerus. Lantas, yang membedakan adalah cara mereka berusaha dan bersyukur, serta tekad untuk selalu berkembang. Kisah semacam ini relevan dengan  yang dialami oleh seorang yang dulunya penerima zakat (mustahik) bernama Sugiannor dan kini naik level menjadi muzaki (pemberi zakat).

Kisah ini mulai disisir dari bunyi mesin impact wrench yang membaurkan kebisingan di salah satu sudut Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Di bengkel kecil itu, Sugiannor tampak sibuk membuka baut CVT sebuah skuter matik yang dipenuhi lumpur mengering.

Aroma oli bekas, bensin, dan debu jalanan menguar di udara, menjadi hal rutin yang telah ia jalani selama belasan tahun.

Bagi Sugiannor, bengkel bukan sekadar tempat mengais rezeki. Itu ruang bertahan hidup. Ia membuka bengkel sepeda motor pada tahun 2009. Pria kelahiran Kalimantan Selatan yang telah berdiam di Samarinda sejak 1990-an ini sebenarnya tidak memiliki latar belakang formal di bidang mesin otomotif roda dua.

Ia menghabiskan waktu lima tahun untuk belajar secara autodidak dan magang sana-sini demi menguasai anatomi mesin sepeda motor.

Perjalanan bengkelnya selama lebih dari satu dekade tidaklah mulus. Sebelum tahun 2024, bengkel Sugiannor adalah potret tipikal usaha mikro yang sekadar bertahan hidup hari demi hari tapi sulit untuk tumbuh. Kondisi yang rentan, lantaran ia punya tanggung jawab menafkahi istri dan anak.

Setiap harinya, Sugiannor bekerja seorang diri, mengandalkan kunci-kunci manual yang menguras tenaga dan waktu. Pendapatan kotor hariannya tertahan di angka Rp300.000, bahkan kurang. Cukup untuk makan sehari-hari namun tak pernah cukup untuk bermimpi membesarkan usaha atau menabung untuk masa depan yang lebih aman.

Hingga akhirnya, bantuan produktif Baznas Kaltim itu datang pada 2024.

Sugiannor terpilih menjadi angkatan pertama penerima program pemberdayaan zakat produktif Z-Auto dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Kalimantan Timur. Program ini tidak datang dengan skema bagi-bagi uang tunai yang konsumtif, melainkan bantuan modal usaha yang terukur dan produktif.

Baznas menyuntikkan modal usaha senilai Rp20.000.000 per bengkel dalam bentuk peralatan bengkel dan suku cadang.

Bagi Sugiannor, bantuan itu diwujudkan dalam bentuk penyelesaian surat-surat kendaraan operasional, serta peralatan bengkel berupa mesin kompresor besar, tabung infus untuk pembersihan injeksi, sepatu boot safety, dan tentu saja, mesin impact yang kini menjadi senjata utamanya.

"Peralatan usaha dari Baznas itu sangat terasa manfaatnya. Pekerjaan yang dulu harus pakai tenaga ekstra dan makan waktu lama, sekarang bisa diselesaikan dalam tempo cepat," tuturnya.

Efisiensi waktu berbanding lurus dengan kapasitas produksi. Jika dulu ia kewalahan menangani beberapa motor sendirian, kini bengkelnya mampu melayani 10 hingga 15 motor per hari. Peningkatan kapasitas ini berkembang dengan merekrut dua orang anggota tim, menciptakan lapangan kerja kecil di sekitarnya.

Dampak ekonominya terasa. Omzet hariannya melonjak menyentuh Rp1.000.000 per hari dalam dua tahun terakhir, angka yang sudah mencakup jasa servis dan penjualan suku cadang. Ini bisa disebut eskalasi kelas dari kelompok rentan miskin menuju kemandirian ekonomi.

Mustahik menjadi muzaki

Ketua Baznas Kaltim KH Ahmad Nabhan (dua dari kiri) menyerahkan secara simbolis bantuan zakat produktif lewat program Z-Auto kepada penerima manfaat. ANTARA/HO-Baznas Kaltim.

Ketua Baznas Kaltim Kyai Haji Ahmad Nabhan memastikan dana zakat umat yang dikelola lembaganya tidak menguap menjadi sekadar gelar amal sesaat.

Nabhan menjelaskan, secara khusus di wilayah sasaran yang mencakup Kalimantan Timur, program ini telah mengintervensi 30 UMKM yang dibagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama membidik 10 penerima manfaat pada 2024, disusul 20 orang pada tahap kedua tahun 2025.

"Kami tidak sembarangan memilih. Kriteria utamanya mutlak, yakni mereka harus masuk dalam asnaf zakat, seperti fakir, miskin, atau golongan lain yang berhak. Setelah itu, ada kualifikasi keahlian dasar dan yang paling penting, komitmen kuat untuk maju. Uang zakat ini titipan umat, harus produktif," kata Bagas Raga, Person In Charge (PIC) Program Z-Auto Baznas Kaltim.

Pendekatan yang dilakukan Baznas bukanlah memberi modal lalu ditinggal pergi. Pendampingan dilakukan secara intensif dan on-site. Tim Baznas rutin melakukan kunjungan lapangan, membuka ruang diskusi untuk keluh kesah para mekanik, dan mengadakan evaluasi bulanan yang ketat.

Hasil pantauan teknis Baznas menunjukkan grafik peningkatan. Secara rata-rata komunal, terjadi kenaikan omzet sebesar 50 hingga 60 persen di seluruh titik penerima manfaat Z-Auto.

Tetapi, esensi dari program Baznas tidak berhenti pada fisik usaha. Sebagai lembaga yang mengelola dana umat beragama, parameter keberhasilan mereka memiliki dimensi ganda. Perkembangan penerima manfaat tidak hanya diukur dari aspek teknis (omzet dan keahlian), tetapi juga dari aspek non-teknis, yakni akhlak dan perilaku spiritual.

"Ini dana zakat, programnya khusus untuk muslim. Jadi, kami punya tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kemapanan ekonomi mereka berbanding lurus dengan kedekatan mereka kepada Sang Pencipta," kata Raga.

Dalam catatan evaluasi Baznas, terjadi peningkatan dalam konsistensi shalat lima waktu dan tilawah Al-Quran di kalangan mekanik. Mereka yang dulunya mungkin terlalu lelah bertarung dengan pelumas dan mesin hingga mengabaikan waktu ibadah, kini memiliki keteraturan hidup yang lebih baik.

Puncak dari keberhasilan program ini adalah terjadinya pergeseran status kelas sosial-ekonomi. Data Baznas Kaltim mencatat, 30 persen dari para penerima manfaat (mustahik) Z-Auto kini telah bermutasi menjadi pembayar zakat (muzaki). Sementara itu, 70 persen lainnya telah rutin menjadi munfik (orang yang mengeluarkan infak).

Tangan yang dulunya berada di bawah untuk menerima, kini telah berbalik ke atas untuk memberi. Sebuah bukti bahwa rantai kemiskinan bisa diputus jika instrumen filantropi Islam dikelola dengan prinsip keadilan ekonomi dan manajemen yang lebih presisi.

"Setelah fase exit, secara aturan program, kami tidak akan memberikan intervensi bantuan modal lagi kepada orang yang sama. Mereka harus mandiri, dan dana zakat harus digulirkan kepada mustahik baru yang masih mengantre di bawah," kata Raga.

Pada akhirnya, kisah Sugiannor dan puluhan mekanik Z-Auto lainnya di Kalimantan Timur ialah narasi menumpas penyakit kemiskinan. Mereka tidak melawan dengan turun ke jalan, tetapi lewat mesin impak dan putaran kunci pas.

Dalam transisi ekonomi daerah, Baznas Kaltim membuktikan bahwa dengan akses modal yang tepat, pendampingan yang memanusiakan, dan etos kerja yang kuat, label miskin bukanlah sebuah kepapaan yang diwariskan, itu sekadar kondisi sementara yang sangat bisa ditangkal.



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026