Natuna (ANTARA) - Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Kepulauan Riau menyatakan kelapa bulat asal Kabupaten Natuna menjadi komoditas primadona dan menjadi incaran daerah lain.
Penanggung Jawab Satuan Layanan (Satpel) BKHIT Natuna Iwan Setiawan di konfirmasi dari Natuna, Kepri, Selasa, mengatakan menjelang bulan suci Ramadhan terjadi peningkatan permintaan kelapa bulat. Natuna menjadi salah satu daerah penghasil, yang mendapat permintaan tinggi.
Ia menjelaskan pada Rabu (18/2) akan dikirimkan 148,89 ton kelapa bulat ke Kota Tanjungpinang dari Natuna menggunakan transportasi laut.
"Sebanyak 148,89 ton kelapa bulat atau dikenal dengan kelapa jambul dan kelapa akhirnya dapat dikirim," ucap dia.
Terhadap 148,89 ton kelapa itu, lanjut dia, telah dilakukan pemeriksaan oleh tim Karantina Kepri.
Ia menjelaskan pemeriksaan setiap media pembawa baik hewan, ikan, tumbuhan dan produk turunan yang akan dilalulintaskan wajib dilengkapi dengan Sertifikat Kesehatan.
Hal ini guna mencegah masuk dan tersebarnya hama dan penyakit Karantina, sekaligus memberikan jaminan keamanan dan kesehatan setiap media pembawa sebelum nantinya akan di konsumsi masyarakat atau diproses lebih lanjut ke industri pengolahan.
"Kelapa akhirnya dapat dikirim setelah diterbitkan Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Antar Area (KT-3)," ujar dia.
Karantina Kepri berkomitmen mendorong potensi daerah untuk bisa menembus pasar dalam negeri.
Ia menegaskan dengan diperdagangkan kelapa Natuna ke daerah lain, menjadi salah satu bukti hasil pertanian Natuna dapat bersaing dengan daerah lainnya.
“Untuk itu, ayo laporkan setiap media pembawa yang dilalulintaskan. Mari kita dukung sumber daya yang ada di perbatasan untuk bisa memenuhi kebutuhan domestik” ujar dia.
Baca juga: Ekspor naik jadi penyebab harga kelapa bulat dalam negeri mahal
Baca juga: Banyumas incar pusat ekspor gula semut dunia dari kelapa genjah
Pewarta: Muhamad NurmanEditor : Erwan Muhadam
COPYRIGHT © ANTARA 2026