Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) memastikan bahwa bencana tanah longsor yang terjadi di sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet, khususnya di Kabupaten Pemalang dan Purbalingga, tidak disebabkan oleh aktivitas penambangan. 

Kepastian tersebut diperoleh berdasarkan hasil tinjauan lapangan dan kajian teknis yang dilakukan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng.

Kepala Dinas ESDM Jateng Agus Sugiharto, di Semarang, Rabu, menyampaikan bahwa pihaknya secara rutin melakukan upaya mitigasi bencana melalui penyampaian informasi potensi gerakan tanah kepada seluruh bupati/wali kota setiap bulan. 

Terutama, sejak memasuki musim penghujan. Informasi tersebut bersumber dari hasil overlay antara peta rawan longsor dengan data prakiraan cuaca dan curah hujan dari BMKG.

Baca juga: Cuaca buruk jadi kendala BPBD evakuasi korban di Gunung Slamet

"Setiap bulan kami merilis peta potensi gerakan tanah yang dilengkapi tabulasi curah hujan dan tingkat kerawanan, mulai dari rendah hingga tinggi. Ini kami sebarkan sebagai peringatan dini agar daerah bisa meningkatkan kewaspadaan," katanya. 

Selain itu, pihaknya juga melakukan penataan kegiatan penambangan serta memberikan surat peringatan kepada seluruh pelaku usaha tambang agar menjalankan aktivitas sesuai ketentuan administratif, teknis, "good mining practice", dan ketentuan lingkungan.

Sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan bencana juga terus dilakukan agar warga segera mengamankan diri apabila terjadi hujan lebat atau intensitas tinggi dan durasi panjang.

Terkait penyebab longsor di lereng Gunung Slamet, ia menjelaskan bahwa longsoran terjadi pada lereng-lereng terjal di tubuh gunung akibat curah hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari. 

Baca juga: Melihat cara budayawan Banyumas merawat kelestarian Gunung Slamet

Kondisi tersebut membuat tanah menjadi jenuh air, sehingga kekuatan dan kestabilan lereng menurun.

"Tanah yang gembur memiliki porositas tinggi. Ketika terisi air hingga mencapai titik jenuh, ditambah kemiringan lereng yang curam, maka kestabilannya terganggu dan terjadi longsor," katanya. 

Faktor utama pemicu longsor, meliputi intensitas hujan tinggi, kondisi litologi atau jenis batuan yang mudah lapuk, serta kelerengan yang terjal.

Agus juga menegaskan bahwa lokasi penambangan berada di kaki Gunung Slamet, dengan elevasi lebih rendah sekitar ratusan meter dari mahkota longsoran sehingga tidak berkaitan sebagai pemicu bencana.

"Tidak ada penambangan yang masuk ke tubuh Gunung Slamet. Lokasi tambang berada jauh dari titik longsor," katanya.

Baca juga: Budayawan dan pegiat lingkungan serukan aksi penyelamatan Gunung Slamet

Melalui penyampaian informasi, peringatan dini, serta penegakan aturan yang konsisten, ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa longsor merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi dan diantisipasi.

Serta, bersama-sama meningkatkan kewaspadaan untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana.

"Kami memberikan perhatian kepada warga yang terdampak bencana. Dan kami akan terus berupaya melakukan upaya pencegahan terhadap potensi bencana di Jawa Tengah," katanya.

 



Pewarta: Zuhdiar Laeis
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026